Jumat, 30 Oktober 2009

Dia tahu dia salah. Kesalahan besar yg dia lakukan di hidupnya. Dia mnyiksa dirinya sendiri. Dia membiarkan dirinya tertipu dalam harapan2 itu. Terus-menerus. Dgn mudah dia memaafkan lelaki itu. Dgn mudah dia membuka hatinya lagi. Tapi apa yg terjadi skrg?
Lelaki itu kembali pergi. Pergi dan meninggalkannya bersama harapan2 itu. Lelaki itu tdk pernah mengerti akan sakit hatinya.
Tdk jg peduli dgn airmatanya yg selalu mengalir.
Lelaki itu pergi dan menyisakan tanda tanya yg berseliweran di hatinya.
Hatinya?? Masih adakah hati dalam dirinya? Karena kini dia sadar, bhwa hatinya, tempat ia menyimpan seluruh cinta skrg sudah tdk ada. Pergi bersama lelaki itu. Lelaki yg selalu dtg dan pergi sesukanya. Tanpa peduli akan penderitaan yg dia alami.
Tuhan, tolong hilangkan rasa sakit ini... Tolong, Tuhan... Karena dia sudah benar2 tdk kuat lagi menahannya. Dia tdk sanggup lg menanggungnya. Dia tdk tahu harus dgn cara apalagi dia mampu bertahan... Tolong, Tuhan... Tolong dengarkan doanya... Tidakkah Kau lihat airmata yg mengalir deras di wajahnya? Sudah cukup, Tuhan... Dia tdk sanggup lagi menahan pedih ini...
Seharusnya dia tdk begini. Seandainya saja dia tdk semudah itu percaya lagi pada lelaki itu.... Dia pasti tdk akan semenderita ini. Seandainya saja dia sadar bhwa lelaki itu sudah pergi. Benar2 pergi. Dan tak akan kembali lagi.
Tapi akhir2 ini lelaki itu begitu baik padanya... Begitu perhatian. Da bagaimana mungkin dia bisa menahan diri utk tdk bahagia dgn harapan2 itu? Dia bahagia. Sehingga dia lupa. Lupa utk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk seperti ini...


Tahu gimana rasanya sakit hati? Dia tahu. Karena dia merasakannya. Berkali2. Dan dia sudah terbiasa dgn sakit hati itu.
Sesungguhnya, dia sudah keluar dr lembaran pahit ktika cintanya dikhianati. Dia telah bangkit. Dan kmudian membuka hatinya lagi utk lelaki itu. Tapi ketulusannya memafkan, keulusannya mencintai, hanya dipandang sebelah mta oleh lelaki itu. Lelaki itu memang datang, melambungkannya dalam harapan. Tapi hanya sampai di situ. Lalu lelaki itu menggantungkannya. Lelaki itu tdk pernah melepasnya, ataupun membiarkan dia lari. Setiap kali dia coba utk menjauh, lelaki itu kembali menjeratnya. Terus. Selalu bgitu.
Seberapa besar arti dirinya bagi lelaki itu? Mengapa lelaki itu tdk juga mengerti bhwa dia sakit? Dia merasa kehilangan harga diri. Dia merasa diinjak2 kr dipermainkan seperti ini.
Dia sudah kehabisan kata2 utk menyadarkan lelaki itu. Lelaki yg tak pernah mengerti akan sakit hatinya. Dia lelah menangisi lelaki yg tak pernah memikirkannya. Dia lelah terus bertahan.


Fiuh. Ada rasa sakit yg tdk bisa lg dia ungkap dgn kata2. Nyata terasa begitu perih tnpa bisa ia kendalikan. Jujur, dia lelah. Dia ingin mengakhiri  ini semua. Dia sakit. Dia begitu rapuh. Dia sudah tdk kuat lg utk bertahan...
Tuhan, tolonglah dia... Tolong hilangkan rasa sakit itu dr hatinya... Tolong bahagiakan dia, Tuhan... Karena hanya Engkau yg dapat menolongnya... Dia tidak tau kagi apa yg mesti dia lakukan thdp rasa sakit yg memilukan hatinya. Dia tdk tau apa yg terjadi padanya. Dia sudah jatuh terlalu dalam. Hingga dia rasanya tdk tau lagi apa tujuannya hidup selain utk mencintai lelaki itu.
Kini dia mengaku kalah. Dia benar2 menyerah. Tdk ada lagi kekuatan yg dia punya utk melawan. Dia hanya mampu bertahan. Mencoba tetap tegar menahan rasa sakit yg merajam dirinya. Hingga semua org melihatnya sbg sosok yg tangguh dan selalu ceria. Tdk ada yg tahu bhwa dia menderita. Bahkan lelaki itu pun tak pernah sadar akan sakit hatinya...
Jiwa yg telah mati, namun terperangkap dalam jasad yg masih hidup. Itulah dia. Dia sudah tdk bisa merasakan apa2 lagi. Kecuali satu, rasa sakit di hatinya...
Dia tahu cara termudh utk menghilangkan rasa sakit hatinya. Dia hanya perlu membunuh jasadnya. Ya, sesederhana itu. Dn rasa sakit yg selama ini menyiksanya akan hilang tanpa bekas. Dan semua kisahnya akan berakhir. Itu satu2nya jalan yg tersisa...

Lalu apa yg bisa dia lakukan skrg? Perlahan dia menjenguk ke dasar hatinya... Tidak dia temukan lg luka itu, ataupun duri2 tajam yg mengoyak lapisan demi lapisan hatinya. Mau tahu apa yg dia lihat? Dia tdk menemukan apa2. Bahkan htinya. Hatinya! Hanya ada sebuah lubang menganga di dadanya, tempat hatinya dulu berada...
Dia mencintai lelaki itu. Apa dia salah? Ya, jelas dia salah. Mau sampai kapan dia hidup dgn harapan2 semu seperti itu? Jika lelaki itu memang tdk akan kembali, lalu mengapa lelaki itu memberi harapan padanya? Itu sama saja menghancurkannya.  Memerangkapnya. Menghambat masa depannya. Tolong bawa dia ke dunia nyata...  Tolong jgn kurung dia dalam harapan yg belum tentu jd nyata...

Kamis, 22 Oktober 2009

Ah! Lagi2 dia merutuki dirinya sendiri. Memangnya setangguh apa dia sampai dia bisa membenci lelaki itu? Bukankah selama ini sudah sering dia coba utk melawa hatinya? Tp apa hasilnya? Justru dia semakin terperangkap dalam cinta tanpa akhir, dalam rasa sakit kehilangan cinta yg direnggut sevara tiba2 darinya sedang dia sendiri masih menghausi cinta itu...
Lelaki itu memang bukan makhluk paling sempurna yg ada di dunia, tp baginya lelaki itu adalah perwujudan cinta yg paing nyata. Sangat nyata, meski tdk sempurna...

Hari ini sudah menginjak hitungan ke 256 hari yg dilewatinya sendirian. 256 hari. Mestinya sudah tdk sesakit ini lagi. 256 hari itu bukan waktu yg singkt. 256 hari itu lama. Ratusan. Tp dia tetap begini2 saja. Sama sekali tak ada perubahan yg berarti. Masih jauh dr kata membaik. Apalagi pulih. Mungkin kata yg lebih tepat utknya adalah terbiasa. Kebal. Dia hanya berusaha utk tdk mengingat luka itu.
Kata orang, cinta itu layak diperjuangkan. Cinta yg bagaimana? Apakah sama kasusnya dgn yg dia derita skrg? Dgn cara apa dia harus memperjuangkan cintanya? Dgn duduk diam meratapi ketragisan nasibnya? Ah! Bodoh... Bodoh sekali dia... Dia harus bisa melawan hatinya. Harus. Toh lelaki itu bukan makhluk paling sempurna yg ada di dunia. Pasti ada kekurangan lelaki itu yg selama ini luput dr matanya... Psti! Pasti ada. Pasti ada sesuatu dr lelaki itu yg bisa membuat dia membencinya...

Jumat, 16 Oktober 2009

Apakah lelaki itu tak pernah berfikir sekalipun ttg bagaimana dia bisa melanjutkan hidup tanpanya? Ketika dia membuka mata di pagi hari, dia sama sekali tdk semangat melanjutkan hidupnya sebab dia sudah membayangkan hari2 sepinya tanpa lelaki itu...

Dia tahu imajinasainya terlalu tinggi. Dia bahkan bisa mengkhayalkan masa depan yg indah bersama lelaki itu padahal dia sendiri tahu kemungkinanya hanya berapa persen mengingat lelaki itu kini sama sekali tdk memandang ke arahnya.

Sekarang dia sudah sangat terbiasa dgn kehampaan itu. Dia merasakannya. Dan dia sangat mengenal kepahitan serta luka yg tak mampu dijangkau oleh kata. Dia terbiasa ketika bangun di pagi dan sepi itu langsung menyergap dirinya. Membuat dia sadar, hari itu akan sama saja seperti hari2 yg telah lewat. Dia tdk lagi memiliki lelaki itu dalam harinya. Dia akan mengarungi harinya sendiri. Sendiri!

Dan dia menangis lagi. Dia tahu airmatanya hanya akan terbuang percuma. Dia hafal betul bahwa airmata itu hanya akan membasahi kembali luka di hatinya. Luka yg bahkan tak pernah mengering. Tidak pernah sedikitpun. 

Cinta itu ibarat anak panah yg terlepas. Anak panah yg terlanjur ditancapkan di hati. Tdk ada satu pun org yg bisa mencbut anak panah itu tanpa melukai hatinya. Pasti akan ada airmata dan darah bila suatu hari nanti anak panah itu dicabut. Dan kemudian luka itu akan terus mengucur dr lubang di hatinya yg menganga. 

Ya Tuhan.... Sampai kapan dia begini? Melewati waktunya yg selalu sama setiap hari. Membuang air matanya yg seolah tak pernah bisa kering. Ya Tuhan... Betapa dia merindukan lelaki itu. Betapa ia tdk sanggup bertahan lebih lama lg. Tidak Tuhan... Dia sakit. Dia rapuh. Tolonglah dia... Tolong dgrkan doa2nya...

Dia merindukannya. Bahkan di saat tengah malam seperti ini. Bahkan dia sama sekali tdk mengantuk. Dia justru tgh menangis. Mengenang kembali kebersamaan indah yg dulu selalu ia nanti tiap saat. Dia berharap dia bisa merasakan kehangatn itu lagi. Kehangatan yg menyelimuti hatinya saat ia mendengar lelaki itu mengucap cinta padanya. Kehangatan yg... Ah! Entahlah. Dia bahkan telah lupa kapan terakhir kali merasakn kehangatan itu. Rasa hangat yg bisa mengistirahatkan otaknya. Membuatnya melupakan semua masalah yg paling urgent sekalipun. Sebab apa? Karena bersamanya semua terasa jd lebih mudah. Memang masih terasa agak sulit, tp tdk lagi mustahil bagi dia utk melawan hari bila bersama lelaki itu...

Tapi sekarang? Semua telah berubah. Tidak ada lagi hari2 indah yg dia lewatkan bersama lelaki itu. Benar2 berubah. Drastis. Harus dgn keadaan seperti inikah dia melewati 365 hari dalam tahun ini?

Dan apakah selama 365 hari itu, dia harus terus menguras cadangan airmatanya? Untuk lelaki itu yg takkan tahu sudah berapa liter airmata yg dia habiskan... Bahkan lelaki itu tak tahu bahwa kini dia sudah kurus, Karena lelaki yg tak akan peduli padanya.

Selasa, 13 Oktober 2009

Pahit. Pahit sekali kenyataan yg harus dia hadapi. Sendirian. Tanpa tahu harus bagaimana. Tanpa tahu harus kemana melangkah. Tanpa tahu apa yg akan ia temui dalam setiap harinya.
Memang tak ada yg perlu disesalkan. Karena dia juga tdk tahu apa yg harus ia sesali. yg dia tahu kini dia sendiri. Melawan hari2nya sendiri. Hari yg selalu sama. Monoton. Tanpa kejutan. Tanpa sesuatu yg bisa dikenang. Dan yg jelas, tanpa lelaki itu. Lelaki yg selalu dirindukannya. Lelaki yg namanya selalu ia sebut dalam doa2nya. Lelaki yg selalu dia percaya seumur hidupnya. Lelaki yg tak akan pernah bisa ia benci. 
Ya. Lelaki itu. Lelaki yg wajahnya selalu hadir di setiap mimpinya.

Selasa, 06 Oktober 2009

Rasanya dia masih tdk percaya bhwa lelaki itu berubah. Lelaki yg dia kenal sjak 3 taun yg lalu adalah lelaki baik2 yg rajin, alim, romantis, setia, dan yg terpenting menyayangi dirinya. Namun lelaki yg skarang bkn lg lelaki yg dulu dia kenal. Dia masih org yg sama tp tdk lagi sama. Tapi dia tetap tdk peduli. Yg jelas dia akan menanti. Entah apa yg mebuatnya mampu bertahan. Padahal segala harapan masih diselimuti bayang semu dan kekaburan. Namun hati kecilnya menolak utk berhenti. Hatinya percaya bhwa mimpinya pasti akan terwujud, bhwa lelaki itu pasti akan kembali, meski itu artinya dia harus rela mengorbankan dirinya sendiri utk terus disakiti.
Dia menangis. Lagi. Masalahnya tumpang tindih. Sahabat2nya pergi dan lelaki yg dicintainya jg pergi. Kesalahan apa yg telah dia lakukan di masa lalunya? Sebesar apakah kesalahannya hingga Tuhan pun bhkan menutup telinga dr doa2nya?

Jumat, 02 Oktober 2009

Tidak pernahkah lelaki itu sadar akan cintanya? Pernahkah lelaki itu teringat kembali akan kenangan2 yg pernah mereka lalui bersama? Masihkah ada kesempatan bagi dia? Kalau boleh, sekali lg saja. Sekecil apapun kesempatan itu, dia rela menukar semua kebahagiaan di sisa hidupnya asal dia bersama lelaki itu lagi. Pernahkah lelaki itu memikirkannya walau hanya sebentar? Pernahkah? Dia rindu sekali pd lelaki itu. Apa pernah lelaki itu merindukannya? Ah! Dia tidak peduli. Yg jelas hatinya yakin bahwa suatu hari nanti-entah kpn-lelaki itu akn kmbli pdnya. Sebab itu dia akan selalu menanti. Sabar bertahan meski sakit. Mungkin saja lama-kelamaan hatinya akan mati. Mati perlahan sebab terus tersakiti. Namun dia tetap tidak peduli. Dia akan terus menanti.

Lelaki itu tak mengerti. Sungguh2 tidak mengerti bahwa ia rindu. Lelaki itu tidak mengerti betapa ia mencintainya. Lelaki itu benar2 tidak mengerti. Entah apa yg harus dia lakukan agar lelaki itu mengerti? Bagaimana?

Apa dia hanya bisa berdiam diri melihat lelaki itu berjalan di depannya tanpa pernah menoleh lg? Apa dia bisa menghentikan langkahnya mengharapkan lelaki itu?

Dia merindukannya. Dia sadar itu. Rindu yg menyayat hatinya. Dia tau dia hanya mengusik luka hatinya yg tak pernah beku setiap kali mengingat kenangan2 itu. Dia sengaja menjatuhkan diri dlm duka itu lg. Dia sengaja tidak mau membuka hatinya utk siapapun. Dia tidak mau, tidak bisa, tidak siap. Dia terlalu mencintai lelaki itu. Dia bahkan sangat merindukannya. Merindukan tiap detik wktu yg dia lalui bersamanya. Merindukan kehadiran lelaki itu dlm hari2nya. Tp kini dia sendiri. Hampa. Tanpa sosok yg teramat dicintainya. Dia ingin lelaki itu mengerti. Bahwa dia sakit, bahwa dia menderita. Namun lelaki itu tak lg melihat ke arahnya. Lelaki itu tersenyum, namun tak lagi utk dirinya. Senyum dan tatapan mata yg penuh cinta itu utk seseorg lain. Seseorg lain yg menjadi alasan lelaki itu utk pergi meninggalkannya.

Walau terkadang ia lelah dan terlintas untuk berhenti. Namun saat teringat akan dirinya yg dulu, ia tersenyum sedih. Kenapa semua cepat berlalu?

Setiap saat ia bertanya2, kpan rasa skit ini bisa hilang? Ah! Biarlah wktu yg akan menjawabnya nanti...

Meskipun waktu akan terus bergulir, kisah cintanya akankah terus berlanjut?

Harus dgn cara apalagi ia meminta? Dgn cara apalagi dia mengeluarkan curahan hatinya? Rasanya semua kata2 telah habis utk menggambarkan kepedihan hatinya. Susah. Susah sekali bangkit dari keterpurukannya.

Keterpurukan yg tak habis2nya menyiksa dia dlm senyum. Meski di sekililingnya semua org berteriak memintanya bangkit, tp suara bagaikan bisikan yg tiada arti. Bisikan yg dikalahkan oleh rintihan. Rintihan cinta... Yg tak berbalas.

Hari ini dia melihatnya kembali. Tapi tidak ada kebahagiaan yg menyelimuti dirinya. Sebaliknya, dia resah.Galau. Dia khawatir sekali dgn keadaan lelaki itu. Sangat. Tapi dia tidak tau apa yg harus dia lakukan. Bukan. Bukannya dia tidak tau apa yg harus dia lakukan, tp terlebih dia tidak punya alasan utk menanyakan keadaan lelaki itu. Sebab lelaki itu tak akan menanggapinya. Mereka tidak ada hubungan apa2 lg!! Jd pantaskah bila dia mengkhawatirkan lelaki itu? Masih bolehkah dia?

Rasa ini sungguh menyiksa hatinya. Menyiksa dirinya, hidupnya. Dia lelah jiwa raga. Menderita. Merana. Lelaki itu kini telah berubah. Jauh. Drastis. Lelaki baik2 yg dulu ia kenal sekarang berubah menjadi org lain. Bukan cuma karena lelaki itu tidak mencintai dia lg, tp lelaki itu memang benar2 berubah. Sungguh. Dia bisa merasakannya. Tapi perubahan itu bukan perubahan yg baik. Lelaki itu justru berubah menjadi org yg buruk-sikapnya, sifatnya, semuanya. Tapi dia bisa apa?

Dia hanya bisa menatapnya dari jauh. Mencuri pandang utk dpt melihat senyumnya.

Mengapa? Mengapa jd begini hidupnya? Satu per satu org yg dia sayang pergi meninggalkannya. Sahabt2 yg dulu selalu ia percaya, keluarga yg selalu ia cintai, dan puncaknya lelaki itu. Apa dia tidak pantas utk bahagia? Sebesar itukah kesalahan yg ia lakukan di masa lalunya hingga kini karma tak henti menghukumnya? Apalagi yg harus dia lakukan? Kpd siapa lagi dia harus minta maaf agar meringankan dosa akibat kesalahan2 yg pernah ia lakukan? Tapi apakah manusia mapu mengubah kenyataan? Atau mengatur hidupnya sendiri?

Tidak. Manusia hanya bisa menjalani takdir yg telah digariskan Tuhan utknya. Tapi dia hanya bisa meratapi dirinya bersama takdir yg menyiksa. Sampai kapan dia harus menyesali takdir yg membuatnya mulai kehilangan segalanya perlahan2? Mungkin org akan menganggap itu sbg hal biasa, namun apakah mereka tau bahwa yg disini menderita? Dia rasa takkan ada yg mengerti kecuali Tuhan!!

Ah! Tidakkah ada satu orangpun yg mau menolongnya? Memberi tau lelaki itu bahwa dia rindu, menyampaikan rasa cintanya pd lelaki itu, dan mengajak lelaki itu bertemu dengannya. Karena dia lelah. Karena dia tidak tau lg bagaimana harus bertahan. Di depan semua org dia masih bisa tertawa, tersenyum, ceria, tp jauh di dasar  hatinya ia termangu. Merasa hampa tanpa sosok yg teramat di cintainya. Adakah org2 tau itu? Tidak. Tidak ada satu orgpun yg mau mengerti perasaannya. Tidak ada. Semua org menuntutnya menjadi sosok yg tangguh dan sempurna. Dia sesungguhnya tidak bisa. Dia seperti puppy. Yg terlihat tough di luar tp rapuh di dalam. Dia tidak mampu. Dia butuh lelaki itu. Sangat. Tolonglah dia... Sebelum dia mengakhiri hidupnya dgn caranya sendiri. Tolonglah dia... Karena dia sungguh membutuhkan pertolongan. Dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia butuh bantuan org lain utk menyadarkan lelaki itu akan dirinya yg masih setia menanti.

Menangis. Lagi. Dan entah sampai kapan. Dia merindukan lelaki itu. Dia sangat mencintainya. Tp dia cukup tau diri untuk tdk mengusik ketenteraman hidup lelaki itu sekarang. Hanya saja dia belum sanggup utk melupakannya. Dan dia akan selalu menanti sebab dia tak 'kan bisa bernafas tanpa lelaki itu.

Dia menderita krn cintanya. Kdg dia merasa bodoh melakukan tindakan2 konyol utk membahagiakan lelaki itu. Sering kali dia marah, kesal, kecewa... Tp apalah dayanya? Dia terlalu dan amat sangat mencintai lelaki itu. Tulus. Entah sampai kapan.

Andai dia mampu melakukan sesuatu yg bisa membuat lelaki itu melihatnya... andai dia bisa memutar waktu... Dia ingin. Dia ingin sekali lelaki itu tau. Dia ingin lelaki itu mengerti betapa ia rindu. Andai lelaki itu tau bhwa airmatanya tak pernah habis utk menangisi cintanya yg berakhir tragis. Andai lelaki itu tau bahwa sekarang pun, detik ini, dia tengah menangis. Dia sungguh tdk tau lagi kata2 apa yg harus ia pakai agar membuat lelaki itu sadar...

Rasa sakit ini masih ada dan akan terus ada sampai dia nanti kembali mengulang lagi semua yg dulu pernah mereka lakukan. Tapi kapan? Kapan waktu itu tiba? Akankah? Bagaimana bila tidak? Bagaimana dia sanggup bertahan tanpa lelaki itu? Dgn cara apalagi dia mampu membendung rasa rindu yg menyesak di dada??

Kamis, 01 Oktober 2009

Sejujurnya, dia telah lelah. Sangat lelah. Lelah atas perasaan sakit ini. Ia sungguh ingin lari, lari dr semua derita perasaan ini. Memulai semua dr awal. Tp kenapa begitu sukar melupakannya? Kenapa ia tak mampu tuk hilangkan bayang lelaki itu dr benaknya. Seolah tel;ah menyatu kuat dgn pikirannya. Oww... Tolong dia... Tolong dia dr jurang dalam ini!! Dia akan tenggelam dan semakin tenggelam krn cintanya sendiri.

Dia hanya ingin Lelaki itu kembali. Dia ingin lelaki itu tau besar cintanya, tinggi khayalnya utk lalui waktu yg tersisa di sisa hidupnya, di sisa akhir nafas hidupnya... Bersama lelaki itu. Lelaki yg teramat dicintainya tp telah memporak-porandakan hatinya, mengkhianati cintanya. 

Dia menangis. Lagi. Membayangkan betapa kejamnya lelaki itu pd dirinya. Menduakan cintanya, lalu pergi bersama wanita lain. Ya Tuhan... Sakit sekali hatinya melepas kepergian cinta pertamanya.

Entah karena lelaki itu yg jahat atau karena dia yg tak mengerti perasaan lelaki itu. Tapi sepertinya dia sudah cukup menderita utk bersikap dewasa terhadap lelaki itu. Andai lelaki itu tau bhwa dia menderita namun senang utk mengerti lelaki itu.

Apalagi? Apalagi yg mesti ia lakukan agar cintanya dpt berbalas? Apalagi yg harus dia lakukan agar lelaki itu beralih padanya?  Ap kekurangannya? Apa yg dimiliki wanita itu tp tdk dimilikinya? Kapan? Kpan lelaki itu merasakan karma? Kapan???

Hmmm.. Huff... Kapan?? Kapan kata cinta keluar dr mulut lelaki itu utknya? Kapan lelaki itu memuji dirinya seperti dulu? Dia sungguh ingin mendengar kata cinta dr lelaki itu utknya.  Walau hanya sekali.

Kapan? Kapan lagi ia bisa bilang "ILU" pd lelaki itu? (by Dewi Sandra)

Dia masih disini. masih menanti cintanya yg pergi. Akankah lelaki itu mengerti? Apakah lelaki itu sadar akan cintanya? Tidakkah lelaki itu mengerti betapa berarti dirinya utk dia? Lalu mau sampai kapan? Sampai kapan ia menanti?

Apakah dia harus menanti sampai akhir hayatnya? Heh. Riwayatnya memang sudah berakhir. Sudah berakhir sejak lelaki itu meninggalkannya. Semuanya. Semua ttg dirinya sudah berakhir. Jadi, sebenarnya apalagi yg ia tunggu? 

Ya, ia menunggu sesuatu yg mungkin tak 'kan pernah terjadi. Sesuatu yg nyatanya ia tau bhwa itu mustahil. 

Dia hanya dpt berkhayal dan berhalusinasi ttg masa depan yg ia harapkan. Msa depan yg ia inginkan. Masa depan bersama lelaki itu. Walau hanya sekedar khayal, tak mengapa asal dapat membuatnya tersenyum. Senyum kecil. Senyum sebuah harap dan Khayal.

Dia jatuh. Terlalu dalam. Semuanya terasa hampa tanpa lelaki itu. Ah! Rasanya lelaki sama saja. Lelaki hanya bisa dan selalu melarikan diri tanpa mau bertanggungjawab. Tapi dia tetap tidak peduli. Hatinya menolak utk membenci lelaki yg teramat sangat dicintainya. Hatinya selalu dan akan selalu memaafkan. Sebab cinta itu sabar dan tahan menderita.

Mungkin org akan menganggapnya sbg org bodoh, namun dari dalam lubuk hatinya sebenarnya ia tak mau. Tapi apalah dayanya yg kini hanya bisa meratapi lelaki yg kini hanya bisa ditatap punggungnya. Dia berharap suatu saat nanti, punggung itu akan berbalik, berganti wajah yg ia nanti, berjalan ke arahnya dan mengusap airmatanya yg hampir habis untuknya.

Sudah seringkali dia coba utk bersabar. Bertahan demi cintanya. Dia bertahan dgn harapan2 kecil yg diberikan oleh lelaki itu. Harapan yg entah asli atau palsu. Dia tdk peduli. Dia terus bertahan meski berulang kali jatuh. Bagaimana kalau semua mimpi dan khayalnya tdk terwujud? Bagaimana bila lelaki itu tdk kembali padanya? Bagaimana? Sedang ia sangat merindukannya. Dia rindu akan suara yg dulu selalu menyapanya dgn penuh perhatian. Dia rindu akan sepasang tangan yg dulu selalu menggenggam dan merangkulnya dgn penuh kasih. Dia rindu akan sepasang mata yg dulu selalu menatapnya dgn penuh cinta. Dia merindukan itu semua.

Rindu, sepi, sunyi, dan penantian. Itulah yg dia lakukan setiap hari. Tak lupa titik airmata yg jatuh bergantian ikut menghiasi hari2nya bersama harapan2 kecil.  Andai saja lelaki itu tau bhwa dia selalu menangisi sisa2 serpihan kecil cinta yg dulu ia bangun, yg dulu ia banggakan, yg sampai kini selalu dijaga. Namun semua itu hancur tak bersisa krn sebuah kata yg ia kira tak 'kan pernah ia dengar. Sepertinya, tak perlu ia ceritakan pun org2 sudah tau dr sikapnya. Sikapnya yg kini merindukan semua tentang dirinya, bahkan motornya!!!

Dia sudah berulang kali mencoba untuk bangkit. Nyatanya selama ini dia hanya bersembunyi di balik keceriaan palsu. Dia jengah dgn kepura2n ini. Dia tdk cukup kuat utk melawan. Dia jg bukan seseorang yg tangguh utk bertahan. Dia hnya seorang wanita malang, yg mencintai seseorang yg cintanya tdk lg untuknya. Dia sadar bhwa dia hanyalah perempuan naif yg begitu bodoh. Yg tak sanggup utk melepaskan diri dr jerat cintanya yg palsu.

Lantas sanggupkah dia bertahan? Mampukah ia bertahan sampai Tuhan memberikan keputusan bagi dia yg digantung ketidakpastian? Sanggupkah ia menunggu sampai Tuhan menjawab doa2 yg ia panjatkan di tiap malamnya yg sepi? Permintaan dia sederhana. Dia hanya ingin lelaki itu kembali. Karena bila lelaki itu ada, dia punya semangat utk melanjutkan hidup dan tanpa lelaki itu, semua mimpi dan cita2nya musnah. Sebab hidup tanpanya sama sekali bkn hidup. Bila masih ada satu saja harapan, dia rela menggantungkan seluruh hidupnya pd harapan itu. 

Beginikah cinta ? Apa yg harus ia jawab, apa yg harus ia katakan pd Tuhan jika Tuhan meminta pertanggungjawabannya akan cinta yg telah dianugerahi-Nya ? Cintanya tidak bahagia. Cintanya terkhianati, dibuang, dicampakkan oleh lelaki itu tanpa belas kasihan. Adilkah ini baginya? Tidak! Dia sudah merasakan karma, kepedihan dan rasa sakit hati yg menyedihkan. Sedangkan lelaki itu ? Lelaki itu bahkan kini masih bisa tertawa lepas, memeluk wanita2 lain lagi tanpa peduli dgn dirinya yg menatap hampa. Dia masih bisa melihat lelaki itu. Sungguh. Tapi lelaki yg ada di depan matanya bukan lelaki yg dulu ia kenal. Lelaki itu masih org yg sama tapi tidak lagi sama. lelaki itu tidak lagi memandang ke arahnya yg berusaha menahan air mata tiap kali mereka berjumpa. Lelaki itu tidak mengerti bagaimana ia rindu. Lelaki itu tak mengerti bagaimana pedih hatinya...

Tidakkah ada satu orangpun yg mau menolongnya ? Tidak adakah orang yg mau menyampaikan duka hatinya pd lelaki itu ? Sungguh, dia sangat lelah. Yg dia butuhkan hanyalah lelaki itu. Karena semua terasa benar bila lelaki itu tersenyum padanya. Karena semua rasa lelah seolah mengalir keluar bila lelaki itu menatap matanya. Karena dia merasa utuh kembali bila lelaki itu memeluknya. Dia sangat membutuhkannya...

Ya, dan sekali lagi, itu hanya bisa terjadi di alam bawah sadarnya. dan saat dia membuka mata, kenyataan pahitlah yg menyambutnya. Menebar senyum kemenangan padanya yg telah kalah. Perasaan dia yg lembut telah mengurai logika menjadi satu kenangan. Kenangan yg terlalu sakit untuk disimpan namun terlalu indah untuk dibuang....

Baru sekali ini ia merasakan patah hati. Jiwanya resah. Secuil hati kecilnya marah dan merasa bodoh. Tapi cinta mengalahkan logikanya. Cintanya tidak rumit. Cintanya tulus. Tidak melihat siapapun orang itu ataupun menilai kekurangannya. Cintanya cinta sederhana. Yg akan selalu memaafkan. Yg akan selalu menerima. Cintanya begitu polos, seperti cinta seorang anak pd ibunya; tulus tanpa perlu tahu alasannya apa.

Tidak. Dia sungguh tidak bisa. Terlalu sulit untuk melawan hati. Dia merindukan lelaki itu. Sebab setiap saat kenangan2 itu selalu terlintas di benaknya, seperti slide yg terus berputar. Seperti potongan2 film yg tak jelas alurnya. Dan dia benar2 merindukan lelaki itu. Dia ingin bertemu dengannya. Sebab ada sesuatu yg harus ia katakan. Ia ingin mengatakan bahwa ia rindu. Kalau boleh, sekali saja. Kalau bisa, walau hanya sekejap pun tak apa....

Putih= Ody

Pedih itu terkikis sedikit demi sedikit, tenggelam oleh pertemuan yg dia hindari. Semangatnya meningkat. hidupnya menjadi lebih dari sebelumnya. Tetapi, tiba2 lelaki itu muncul kembali, memberi harapan yg tak kunjung nyata. Dia lelah. Dia merasa bodoh n jijik.

Dia takkan pernah menghadap pd lelaki itu untuk kesekian kalinya, walaupun kesempatan itu memang ada. Telah usai semua permainan. Telah usai tarik ulur yg lelaki itu lakukan. Tarik ulur yg sebenarnya menghambat masa depan yg dia miliki. Berhenti. Berhenti. Dia lelah.

Ungu= Qiqi

Meski Berkali mencoba untuk bangkit, tp saat rasa tiu kembali menghantui semua terasa sia2. Entah sampai kapan karma akan berakhir, entah harus berapa lam lagi dia harus menahannya. Sudah cukup dia tumpahkan air mata untk laki2 yg dia tangisi, entah dia dengar atau tidak. Andai dia dapat mengungkapkan semua rasa di hati....Andai dia dapat mengulang waktu...Andai dia bisa melihat kembali senyuman & cinta yg dulu...

Tp semua hanya khayalan belaka yg bersembunyi di balik sunyi yg merindu...