Kamis, 29 April 2010

Percayakah itu cinta?

Percayakah engkau pd bibir yg mengucap kata cinta?
Tunggu dulu. Bibir siapa gerangan ia? Apakah ia adalah bibir yg rela menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab dari seonggok benda bernama hati? Ataukah ia hanya bibir yg melihat dan menimbang dgn mata?

Jika ia adalah tiang dan jembatan dr hati, percayalah itu nurani. Jika ia hanya mata telanjang belaka, bunuhlah ia. Karamkan dlm palung nuranimu, biar ia merasakan manis pahitnya terluka. Biar ia bisa mengeja cinta dgn darah dan airmata, baru kmudian ia menjelma kata cinta, senyata2nya.

Percayakah itu cinta?

Percayakah engkau pd bibir yg mengucap kata cinta?
Tunggu dulu. Bibir siapa gerangan ia? Apakah ia adalah bibir yg rela menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab dari seonggok benda bernama hati? Ataukah ia hanya bibir yg melihat dan menimbang dgn mata?

Jika ia adalah tiang dan jembatan dr hati, percayalah itu nurani. Jika ia hanya mata telanjang belaka, bunuhlah ia. Karamkan dlm palung nuranimu, biar ia merasakan manis pahitnya terluka. Biar ia bisa mengeja cinta dgn darah dan airmata, baru kmudian ia menjelma kata cinta, senyata2nya.

Saatnya melupakan, mungkin...

Mungkin ini sudah saatnya aku harus mulai belajar melupakanmu. Mungkin ini saatnya juga aku memilih utk belajar menjadi teman saja, buatmu. Meski kenangan tentangmu tak mudah kuhapuskan, biarlah semua membusuk bersama luka yg hidup dlm kesia2an. Tp aku akan tetap setia menjadi tiang dan jembatan tanpa sebab, untukmu. Setidaknya aku berdoa lirih utk pilihanmu.

Semoga bahagia menjemput, setia memayungi cintamu...

Dan aku yg terpuruk kecewa, mengucap selamat tinggal pd bahagia.
Kuyup letihku bertabur sepi dan sendiri.
Cinta dan penantianku berakhir di ujung sia2, sirna tak bersisa.
Dan ,semua karenamu jua.

Kepada Hatimu, yg bukan untukku...

Aku tulis catatan ini ktika aku terombang-ambing ditelan kesepian dan ragu yg deras mengimpit. Dini hari menjelang pagi dtg, ditengarai sepi dan luka yg menghujam tajam, utk kesekian kalinya aku mencoba menyapa cintamu. Tapi tak ada jawab. Yg kutemui hanya lembap udara yg brembus panas. Tak ada gerimis turun, membuat terik matahari bebas menerabas daun2 dan jatuh di wajah tanah merah dan aspal. Gerah sgera brubah peluh. Menyatu bersama dgup jantungku yg mulai kehilangan jejakmu.

Kemana gerangan engkau pergi? Tiga tahun bkn waktu yg singkat bwt org seperti aku. Yg selama ini selalu mencoba stia menjaga sgala rindu dan cinta utkmu. Mungkin terdengar klise atau malah bodoh. Tp stidaknya itu yg kurasakan detik ini: gelisah dan pncarianku menyatu bersama rindu yg menumpuk dan mengecup penantian yg tak kunjung brakhir.

Detik ini, aku hanya bisa bertanya skali lagi:
kemana sbenarnya engkau pergi? Ajari aku mencari peta raga, jiwa, dan hatimu. Krn yg kuyakini dan kudapatkan kini jelaslah sudah:
Hatimu bkn untukku, ternyata. Terima kasih utk stiap sentimeter kebahagiaan yg telah kau berikan. Berbahagialah dgn kekasih pilihan hatimu. Aku akn coba utk rela; merelakan hatimu utk org lain, bukan untukku.

Atas nama apa?

Atas nama apakah kedekatan yg membungkus hari kita selama ini?
Saat pertama kutakluk pd cintamu, aku slalu percaya:
kau yg terbaik dan terindah di hidupku.

Cerita rindu dan penantian yg setia kurajut pd barisan hari yg tak pernah lepas dr kegelisahan, tak juga menyurutkan jejakku. Sampai tiga tahun brlalu dan cintaku tak juga mengecup puncak penyatuan, aku terus saja mengasah segala damba, utkmu.

Tp ternyta aku salah. Hatimu tak juga terjamah.

Sebuah sapa singkat yg kau catat pd embun pagi yg lembap, membuatku jatuh lunglai tak berdaya.
Hatimu, satu2nya, telah kau labuhkan pd hati yg lain, bkn aku.

Tak ada tanda yg kau jelmakan. Tak ada sinyal yg kau gaungkan. Tak ada sepatah kata pun terucap di bibirmu. Hanya sejuta luka yg kau sisakan untukku.

Atas nama apakah kedekatan kita selama ini?
Begitu sederhana kau memulakan,
Begitu menyakitkan kau mengakhirkan.

Jangan berakhir...

Jgn berakhir. Krn risalah rindu ini masih terus mengais ceritamu.
Tak peduli jeratan waktu memaksaku bergemeretak mengejar matahari. Terantuk di padang gerah berkubang butiran peluh, menguras waras yg deras luruh kpdmu. Membuatku tak sadar, kalap mengejar cntamu. Menggebu dlm nada yg brulang2. Mematuk tembang brtahtakn cntamu.

Jgn brakhir. Krn aku masih setia mengulur benang cinta yg kupintal dr serpihan asa tersisa, kasih yg setia menunggu hadirmu, luka bahagia krn tak bosan2nya menatap wjahmu, sunyi mencekam terantuk namamu dan debam hasrat utk tetap berada dlm naungan matamu.

Jgn berakhir. Krn aku akn menunggu hdirmu, kpnpun itu. Jgn brakhir krn aku telah memilihmu sjak tatap pertma tumpah tnpa sngaja di satu snja. Dan smpai kini aku mkin terjerat dlm penantian yg mengerang, meregang, mengerontang;
terpanggang bara api yg stia kunyalakn, tak ingin kupadamkn.

Ya,inilah aku. Yg slalu berharap risalah cinta, pengharapan, dan pnantian utk satu namamu suatu ktka akn menemui pncapaiannya.

Bukan aku tdk tau atau pura2 tdk tau apa yg akan aku temui dlm penantian ini. Ktika aku kmbali mencintaimu, pd detik itu sbnarnya kakiku tlh tiba di rumah pesakitan. Mengerang di atas prahara cinta yg tak jua brakhir. Titik temu dua hati yg ku iba2 blum juga merunut abjad takdir. Terkulaiku dihempaskan asa dr wktu ke waktu. Tetap saja kakiku kukuh percya, walau sgalanya tampak tak nyata.

Rumah yg kuburu makin tenggelam dihapus kungkungan kabut. Samar kupandang, membabi buta jejakku meratap di jemari pelangi. Kau tempatku mengunyah sejarah penantian. Dimana cahayamu kau smbunyikan? Rumah yg kuhuni makin gelap. Terang susah kudekap. Gema pesakitan mengintip di tiap inci kata yg terucap dan terpendam dlm puing suara jiwa. Aku makin terluka. Setia menunggu di ujung abjad takdir yg akn jatuh dr langit. Membwa pesan cintamu, untukku, suatu ktika. Entah di mana, entah kpn masanya. Aku akn stia. Itu saja.

Ya, aku akn setia menantimu. Kapanpun itu.

Dlm derap gerimis yg pongah menghujam. Terbuai wajahmu yg menyusup bertubi2. Membwa sbaris kata bhgia yg menenggelamkn nurani di atas pengharapan tak berkesudahan. Ttg rindu kusam, ttg cinta terbuang. Mengutip satu namamu di antara keluh kesah, gundah gelisah, dan lara pesakitan. Masihkah ada secuil snyum di btas pnantianku yg kini mkin terbata dlm kata2; utk memujimu, mengharapmu, mencintaimu, dan menantimu.

Yg pasti, aku selalu berjalan menujumu.
Detak yg menjepit detik.
Ketuk yg mematuk hampa.
Bergulat tiada, mengalir air mata dan melebur dlm duka.
Tangis ini krn tak kuasa, tangis ini jd pertanda. Ada cinta yg tak terlupa.