Selasa, 30 Maret 2010

Begitu cepat malam beringsut. Angankuingin menjemput bayangmu ketika pagi turun dgn tetes embunnya. Ternyata aku merindukanmu setiap waktu. Selalu saja begitu. Sepertinya alu memang tak bisa menyingkirkan kesetiaanku. Mencintaimu sgn napas terengah dan kepala tengadah menghimpun doa.

Siapa lagi kalau bukan engkau, yg di mataku tak pernah basi. Seperti pagi yg selalu memberikan benderang untuk bumi. Setelah malam membabi buta menenggelamkannya dalam gelap.

Setelah semua makin jelas di mataku, aku juga belum beranhak pergi. Meski mungkin tidak sedahsyat awalnya, kaki belum juga surut mengharapmu. Apakh ini sebuah kebodohan? Barangkali iya. Tapi peduli apa? Bisa mencintaimu sudah cukup bagiku. Kalaupun penantianku harus terlunta2, dan akhirnya tak juga menemui titik muaranya, biarlah itu aku anggap sbg batu ujian yg harus aku lewati. Tal penting apakah aku lulus atau diam di tempat. Yg pasti, aku telah melakukan apa yg seharusnya, bukan apa yg aku reka2.

Mungkin aku ini memang bodoh. Menunggu cinta semu dgn damba seribu dan dibalut kesendirian. Setiap waktu yg berlalu adlah bait2 kesendirian dan penantian yg terus melilit.

Dan kalau sampai hari ini aku masih juga berharap kau akan datang dgn cintamu untukku, itu semua karena aku memang masih menunggumu. Ini di luar batas logika, atau malah di luar batas nalar biasa. Tapi biar saja, aku akan melakukannya sampai kaki dan hatiku benar2 tak mau lagi berpihak.

Kepada Sepi: Yg Membunuhku

Aku melihat sekeliling malam ini. Ramai pejalan kaki dan lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan yg sejenak menyekat pikiran. Sejenak, desau roda kendaraan menyapu jalanan. Menyadarkanku dari kesendirian. Sesaat aku terombang-ambing. Bertanya utk apa aku disini sendiri. Berada di antara org2 yg melenggang bergandengan dg menyungging senyum, menebar tawa kegembiraan.

Sejenak, aku dihinggapi rasa iri yg menusuk dalam. Menggerogoti logika warasku tanpa perlawanan ketika kudapati puluhan pasang mata berbinar duduk dibuai kemesraan. Dan aku masih sendiri terpaku tanpa teman, tanpa siapa2.

Betapa menyesakkan hidup sepi di tengah keramaian. Melintas detik demi detik dgn hanya berpelukan pada asa yg tersisa, menggantungkan angan hanya pada bayang2 semu, pudar lalu tercerai-berai bersama awan. Asa tentangmu yg tak kunjung padam kurengkuh meski dalam ketidakpastian. Bayang2 semumu yg tak lelah kugapai di ujung tebing keraguan beralaskan sembilu tajam.

Bilakh ada setitik masa untukku dan untukmu merangkai kembali barisan cerita rindu yg sempat tertunda. Mungkinkah datang setitik nyala api yg bisa mengobarkan waras jiwamu, membuka satu pintu untukku. Biar bisa kulukis lagi langit dgn damai sapamu. Biar bisa kuhias jalanan kota dgn renyah tawa dan senyummu. Biar rasa iri di dadaku sirna. Biar sendiriku tak hampa dalam keramaian.

Tapi mungkinkah cerita itu berulang? Sementara sampai detik ini, di sendiriku yg bersandar pada langit kelam dan gerimis yg satu2 datang, aku masih saja mematuk bayang2, menggurat kespian tanpa arah. Hanya angin, sebu, dan deru kendaraan yg kucium hambar.

Rabu, 17 Maret 2010

Apakah ini saatnya utk membunuh perasaanku.
Melepaskan segala rindu yg mengendap menjadi debu beterbangan, bersatu bersama langit yg membentang.
Apakah aku mampu? Sementara perasaan ini telah menjelma menjadi prasasti yg membatu. Hidup di segala adaku. Dalam diam, jarak, bahkan luka sekalipun.

Betapa susah memahami arti diri. Betapa sulit menyelami maunya hati. Jalan membentang bertabur kasih yg kugelar, tak juga membuatmu bergeming. Segala adaku telah kubuka utkmu tanpa tirai sehelai pun.

Jika memang akhirnya aku harus membunuh perasaan ini, izinkan aku utk tetap mengenangmu. Tidak juga karena apa, cnta sjati tak bsa dbunuh skalipun bunuh diri. Dia akan tetap mengalir di setiap alunan nada kasih yg menggema di jagad maya. Izinkan aku tetap mencintaimu, walau hanya dalam diam, dlm senyap. Hingga suratan takdir membukakan rahasia kalamnya. Mungkin hanya dg cara itu, aku bisa tetap mencintaimu. Walau mungkin, tak pernah nyata juga akhirnya.

Aku hanya bisa mendesis panjang,
menyebut namamu.
Tapi sia2 saja ternyata.
Namun aku terbiasa.
Seperti menikam diri sendiri tanpa sakit menjerit.
Ku telan pedih karena mencintai dirimu yg hanya meninggalkan serpihan lara.
Kau pagutkan hatimu pd org lain ktika kata setia kujaga di atas pengharapan satu2nya. Tiada ingin ku akhirkan jejak cintaku slain kepadamu. Tapi kini segalanya telah cukup. Selama ini kau hanya memberiku mimpi belaka, lain tidak. Aku pergi karena terlalu mencintaimu, itulah akhirnya.

Biarlah rasa ini kupendam mati. Meski jerit sakitku tak berbuah tangis,
jiwaku merapal duka yg meraja di atas bahagiamu.
Mungkinkah ada secuil kbahagiaan ketika kehampaan
setia kucacah di ujung luka yg blum mengering.
Hampa yg mengendus nelangsa dan selalu berakhr dalam genangan kcewa yg memuja sia2. Mengais pilunya hati
tanpa taht kmana mesti mencari obatnya.

Tergopoh dibilas sedu sedan tangis yg ingin segera kubasuh dg senyum merona. Melibas pahit yg kau tinggalkan. Menelaah hati baru yg mungkin datang menjelang.

Siapa tahu di suatu masa, kutemukan setitik cinta bersemi tanpa tanda tanya. Datang dg lugunya, menawarkan terang di balik gelap yg mendekapku dalam titik hitam yg memanjang

Setidaknya aku masih punya mimpi yg coba kuwujudkan dalam damba, meski hanya menempias pd getar ilusi belaka.
Semoga...

Gud Nite...

Bermalam2 tlah kusisakan separuh mimpi indahku untukmu
Hanya karena aku tak mau kau disekap gelisah yg mengasah pilu.

Izinkan aku, menitipkan kata selamat tdur untukmu
dan tersenyumlah...
Karena itu telah cukup bagiku
Bahkan lebih dari cukup utk bahagiaku
Berbahagialah dalam tdurmu, malam ini...

Andai Kau Tahu

Menyeka sgala lara yg menguntit pd malam gelap.
Merobek indahnya cerita mencintai dan menantimu.

Sapa yg kurunut pd deretan hari tak menjemput nyata.
Pertemuan yg kupilih sbg pembunuh rindu hanya menyapu sia2.

Tak kudengar bisik lembutmu merambah sepiku
menyudutkanku di batas gelisah yg mengunyah luka,
satu demi satu.

Andai kau tahu...
Sapaku mulai tertatih mencari jejakmu
Tak ku dengar lembut bisikmu mengusik sepiku
Berbisiklah, meski hanya berdesir bersama angin
Tak apa.
Aku hanya ingin mendengar suaramu detik ini,
Itu saja.
Karena ternyata, sepiku tak usai
Menyergap sadarku dari puing keterasingan
Rinduku pun tak usai. Merapal namamu dr jerit ketakutan.
Cintaku pun tak juga usai. Memasung hatiku hanya utk satu namamu.
Begitu bermaknanya sbuah kebersamaan
Hingga ku tak tau lagi dg apa kutepikan adamu,
sejenak saja

Begitu menyesakkan dan menyisakan lirih seketika
Saat ku buka mata, tahu2 aku tersadar,
Kamu tak ada di dekatku hari ini
Cinta ini ternyata masih terlalu untukmu...

Patah

Aku patah saat ku sadar
kau tlah branjak pergi dr tepiku
membiarkanku trmangu diam trtusuk kcwa
kau sudahi crita rndu
dg bahagia yg bukan untukku

Tahukah kamu
Kini hanya ada lara yg trtnggal
satu demi satu membunuh setiaku
bersama sepi menyulutkan perih
Bertahta dalam palung hatiku

Semua tlah usai
kau buat ku merasakan damba semu
Apa yg kuyakini cinta
Tak berarti apa bagimu
dan hatimu tak pernah kau sisakan,
untuk diriku

Aku pergi karena mencntaimu...

Senin, 08 Maret 2010

I miz him so much..
Quisalas, i need you badly..
But you are not here...
Aku selalu berharap aku dapat mengucapkan selamat tidur untuknya.
Jadi, selamat tidur , cinta...
Semoga mimpi indah menghampirimu malam ini..
Astaga... Kenapa sulit sekali melupakannya?
Perasaan apa ini namanya?
betulkah yg kurasakan ini cinta?
Lalu mengapa cinta begitu menyakitkan?
Tak bolehkah aku bahagia???

Selasa, 02 Maret 2010

Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya…..


Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, “Seberapa besar kamu mencintaiku?”

Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal.

Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya (wanita)….

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya,
“Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?”
Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda,
akhirnya merestui hubungan mereka. Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertunangan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN…..

Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon.
Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan.

Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat
kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat.

Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka.
Tetapi dia menemukan… bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali.
Dia bisu….. Menurut dokter kecelakaan tersebut > telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan… Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu…

Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu.
Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya.

Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggu nya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata… Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia…

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemuda… Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan di mana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya….
Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya. Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa….
Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu.
“I L O V E Y O U”

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya…. Si gadis akhirnya tersenyum bahagia.

Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu…
dan baru kamu akan belajar cara memberi…..

Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu…..
dan baru kamu akan belajar cara menghargai……

Jangan pernah menyerah.

Keindahan Persahabatan dan percintaan adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat
mempercayakan rahasiamu…

Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan/percintaan…

Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar, mengandung banyak resiko…

Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: “Aku mencintaimu…”

“When loving someone… never regret what u do… only regret what u didn’t do”

Learn to Listen to Love

Cinta. Kata yang satu ini begitu universal sehingga setiap orang di belahan bumi mana pun akan langsung mengerti arti kata tersebut saat mendengarnya. Tapi benarkah selama ini Anda sudah benar-benar paham arti cinta dan mendengarkannya? Nyatanya masih banyak orang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan dan mendengarkan cinta. Mungkin Anda adalah salah satunya.


Mengekspresikan sayang ataupun cinta, memang tidak semudah seperti saat Anda menonton sebuah film drama. Cinta pun begitu universal, karena tidak hanya pada kekasih, tetapi juga pada keluarga, teman dan orang-orang terdekat Anda. Seringkali kita mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya, terutama jika bukan kekasih Anda.

Hal-hal yang semula ingin diungkapkan sebagai ekpresi cinta, kadang malah keluarnya menjadi simbol atau kata-kata lain yang begitu implisitnya mengandung cinta. Alhasil, orang tersebut tidak menangkap ekpresi cinta Anda dan malahan merasa tidak dipedulikan atau malah tidak disukai. Salah kaprah, hanya karena masalah komunikasi yang terhambat.

Sekilas contohnya, ada saat dimana Anda ingin menyampaikan rasa kuatir pada sahabat yang sudah seperti saudara sendiri karena sudah saling kenal sejak bayi, tapi malu untuk mengungkapkannya blak-blakan. Alih-alih kata-kata ‘I love you’ yang akan sangat terdengar aneh di telinga sahabat dan Anda juga malu untuk mengucapkannya, Anda pasti akan lebih memilih untuk mengatakan, “Hati-hati di jalan, awas ya kalau ngebut-ngebut!”, saat dia menurunkan Anda di pintu gerbang rumah. Padahal maksud Anda, adalah, “Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa, karena kamu sahabat yang saya sayang”.

Contoh lain? Flashback sedikit ke masa sekolah. Pernah dimarahi karena pulang terlalu malam oleh ibu Anda? Yang sampai di telinga Anda dan ditangkap serta diproses mungkin hanyalah omelannya. Padahal di balik semua itu, ia hanya ingin menyampaikan bahwa dirinya sangat khawatir dan semuanya karena ia menyayangi Anda, alias “Ibu sangat khawatir, karena ibu sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat berarti buat ibu”. Saat itu, cinta ibu terwujud dalam bentuk omelan yang terdengar sangat menyebalkan.

Cinta memang tidak terbatas lewat serangkaian kalimat manis, tetapi dalam perbuatan dan kata-kata yang kadang tidak enak didengar. Cinta dapat diungkapkan dengan hadiah ulang tahun, pesan-pesan kecil, dengan senyuman, dengan air mata ataupun hanya pelukan kecil yang hangat. Seringkali kita menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang tidak mendengar cinta yang kita sampaikan.

Tidak ada salahnya mencoba MENDENGARKAN CINTA lewat kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain. Ungkapan eksplisit itu penting, tapi bagaimana Anda mengungkapkannya bisa jadi jauh lebih penting. Anda bisa lebih peka dengan mencari dan mendengar cinta yang ada di baliknya.

Mendengarkan cinta bisa membuat Anda sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah dengan orang-orang di sekeliling yang mencintai Anda dengan tulus.
I'm getting bored...