Terkadang aku berpikir,
apa aku setidak berarti itu?
Apa aku sehina itu untuk dihargai?
Hingga aku diperlakukan seperti ini...
Terkadang aku berpikir,
kenapa ya selalu aku?
Ketika dia bersenang2,
aku dilupakan;
sampai SMS aja lama dibalasnya.
Tapi ketika dia lagi susah,
aku lebih gak dipedulikan lagi.
Jangankan mau cerita kayak dulu,
dia bahkan menolak berbicara dgnku.
Terkadang aku berpikir,
kenapa dia sepertinya
tidak punya waktu lagi untukku?
Selalu aku yg mengalah
selalu aku yg berusaha mempertahankan
selalu aku yg mati-matian
memaksa otakku berpikir:
apa sih sebenarnya salahku?
Terkadang aku berpikir,
kenapa selalu aku yg harus mengerti?
Kalo dia marah karena aku salah,
harus aku yg menyadari sendiri kesalahanku.
Kalo dia lagi sibuk,
harus aku yg mengerti bahwa dia sedang tdk mau diganggu.
Kalo dia lagi sedih,
harus aku yg mengerti bahwa dia sedang butuh waktu utk sendiri.
Kalo dia lagi senang,
harus aku yg paham bhwa aku tdk ia butuhkan.
Kalo kami bermasalah pun,
harus aku juga yg mengalah duluan...
Terkadang aku berpikir,
saat dia memintaku utk menjauh krn dia sedang ingin sendiri,
iya, aku turutin.
Tapi ternyata dia sibuk sama org lain.
Kenapa gak bilang sebenarnya sih?
Terkadang aku berpikir,
mungkin gak suatu hari nanti dia menyadari
kesalahan2 yg dia lakukan terhadapku?
Mungkinkah dia kembali menjadi abangku yg dulu?
Selasa, 13 Juli 2010
Terima kasih utk setiap sentimeter kebahagiaan yg pernah kamu pinjamkan.
Hanya sekedar meminjamkan; bukan memberikan.
Mungkin karena aku memang tdk sepantas itu utk menyimpannya.
Terima kasih karena telah memanggilku adek.
Tahu tidak, ada kehangatan yg damai dan membuat hatiku ringan setiap kali kamu memanggilku seperti itu.
Terima kasih karena pernah mau jadi abangku selama 2 bulan ini.
Terima kasih.
Hanya sekedar meminjamkan; bukan memberikan.
Mungkin karena aku memang tdk sepantas itu utk menyimpannya.
Terima kasih karena telah memanggilku adek.
Tahu tidak, ada kehangatan yg damai dan membuat hatiku ringan setiap kali kamu memanggilku seperti itu.
Terima kasih karena pernah mau jadi abangku selama 2 bulan ini.
Terima kasih.
Kalau saja,
sekali saja,
dia memintaku utk tetap tinggal,
aku pasti tdk akan kemana-mana.
Tapi dia tdk pernah mengatakan apa2.
Hanya aku yg selalu bilang bahwa aku akan selalu ada untuknya.
Konyol kan?
Sementara dia tdk pernah bilang seperti itu.
Dia bahkan selalu menghindar tiap kali aku membicarakan topik itu.
Pengusiran yg halus.
Sangat halus.
Tapi sudah cukup membuat aku mengerti; bahwa dia memang tdk menginginkanku.
Kehadiranku, ada-tidaknya aku, tdk berpengaruh baginya.
Jadi,
mungkin aku memang harus pergi.
Keluar dari kehidupannya.
Dan tdk pernah mencoba utk masuk lagi.
Tapi...
Kalau saja,
sekali saja,
dia memintaku utk tetap tinggal,
aku pasti tdk akan kemana-mana.
Aku janji.
sekali saja,
dia memintaku utk tetap tinggal,
aku pasti tdk akan kemana-mana.
Tapi dia tdk pernah mengatakan apa2.
Hanya aku yg selalu bilang bahwa aku akan selalu ada untuknya.
Konyol kan?
Sementara dia tdk pernah bilang seperti itu.
Dia bahkan selalu menghindar tiap kali aku membicarakan topik itu.
Pengusiran yg halus.
Sangat halus.
Tapi sudah cukup membuat aku mengerti; bahwa dia memang tdk menginginkanku.
Kehadiranku, ada-tidaknya aku, tdk berpengaruh baginya.
Jadi,
mungkin aku memang harus pergi.
Keluar dari kehidupannya.
Dan tdk pernah mencoba utk masuk lagi.
Tapi...
Kalau saja,
sekali saja,
dia memintaku utk tetap tinggal,
aku pasti tdk akan kemana-mana.
Aku janji.
Rabu, 07 Juli 2010
Aku memang sudah terbiasa sendiri. Tdk pernah ada org yg benar2 mengerti aku dan selalu ada untukku. Aku sudah terbiasa menelan kepahitan sendiri, menghapus airmata sndiri, mengerti sendiri bahwa aku tdk diinginkan, menjauh sendiri tanpa perlu diusir, menghibur diri sendri, menata hati sendiri, melewati masa2 tersulit itu sendiri, dan sampai akhirnya, kembali menyambut hari dgn senyum dan semangat lagi. Ya, seperti semua yg sudah aku tulis di blog ini; fase2 penyembuhan diriku.
Selasa, 06 Juli 2010
Kata ayah, lelaki sejati itu tidak pdrnah menarik kata2nya kembali. Dan walaupun aku bukan lelaki, aku tetap ingin menjalankan nasihat ayah. Aku akan selalu konsisten dg komitmen dan pilihan apapun yg sudah aku buat. Tapi kadang terlalu banyak orang yg melanggar janjinya sendiri kepadaku. Hingga membuat aku ragu, adakah orang yg benar2 bisa aku percaya di dunia ini? Atau apakah aku memang ditakdirkan utk sendiri?
Apa yg terjadi padaku sebenarnya? Yg aku tahu aku kembali merasa kehilangan. Rasa hampa yg sudah aku hapal mati di suatu waktu dlm hidupku, dan yg aku pikir tidak akan aku rasa lagi ketika dia ada.
Bukan. Ini bukan soal dia yg dulu. Ini tentang org lain. Sosok lain yg baru aku kenal. Walau sekarang aku sendiri tidak yakin apakah aku sudah mengenalnya atau tidak.
Bukankah hubungan persaudaraan tidak akan pernah berakhir? Lalu kenapa aku merasa seseorang yg sudah aku anggap sbg abangku sendiri justru sekarang menjauh dariku? Apa yg sudah aku lakukan? Atau apa yg belum aku lakukan? Kesalahan apa? Kenapa harus menjauh? Kenapa tidak berkata yg sejujurnya kepadaku?
Aku selalu ingin siapapun jujur kepadaku, tentang apapun. Daripada berkata manis tapi bohong, lebih baik jujur walau menyakitkan. Tidak ada yg perlu ditutupi. Tidak juga harus berpura2 hanya utk menjaga perasaanku.
Kau tahu bagaimana rasanya bertanya2 tanpa ada jawaban? Tahu bagaimana rasanya dijauhi oleh org yg sudah kita percaya?
Aku tahu. Dan rasanya jelas tdk semanis vanila, tdk seindah langit, tdk seajaib hujan... Rasanya seperti... Seperti ini. Seperti tdk bisa menemukan jalan pulang saat kita masih kecil. Dan percayalah, rasanya tdk enak. Sungguh.
Kalau dg menulis disini bisa mengurangi rasa sesak di dada, ya, aku akui aku merindukannya. Merindukan dia. Dia yg selalu bercerita apa saja kepadaku, dia yg begitu perhatian, dia yg memintaku utk belajar mempercayainya, dia yg aku pikir bisa aku mengerti... Iya. Dia. Dia yg selama ini aku panggil abang.
Tapi sosok itu menghilang sekarang. Entah ini perasaanku atau apa, tapi sosok itu perlahan mulai berubah. Menjadi org lain yg sama sekali tidak aku kenal. Bukan maksudku supaya dia selalu menjadi yg aku inginkan. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Aku adiknya. Dan tdk ada adik yg tdk bisa menerima abangnya dlm keadaan apapun. Seorg adik pasti akan menerima abangnya, apa adanya.
Tapi ketika aku berusaha menyelami dirinya, aku tdk menemukan celah itu sdikitpun. Tdk ada sisi dlm dirinya yg masih menginginkan keberadaanku. Tdk ada bagian dlm dirinya yg dia sisakan untukku. Aku tahu dia selalu ingin membuat org lain senang, aku tahu dia selalu berusaha ada utk siapapun, selalu menolong org yg membutuhkannya, tapi dia tdk ada untukku. Waktunya sudah habis utk org2 lain. Aku tdk ada lagi dlm pikirannya. Aku bukan lagi adik yg dia butuhkan. Dan sekarang aku jadi ragu, apakah aku dulu dibutuhkan? Sepertinya tidak. Kenyataannya memang aku tdk pernah dibutuhkan. Aku yg salah mengira. Hanya aku yg membutuhkannya. Sementara dia tidak.
Dan kesadaran akan hal itu membuat aku jatuh lagi. Ya. Aku baru ingat selama ini hanya aku yg berkata bahwa aku akan selalu ada utknya. Dia tdk pernah mengatakan hal itu. Tidak. Sama sekali tdk pernah. Bahkan alasan kenapa dia mau menjadi abangku saja tdk pernah dia kemukakan. Dia ada sekedar utk menjaga perasaanku saja. Karena dia merasa tdk enak. Karena dia selalu ingin menyenangkan org lain. Hanya itu. Dan kenapa aku terlambat menyadarinya? Disaat aku sudah terbiasa dg kehadirannya dlm hari2ku, disaat aku mulai percaya padanya.
Abang, sebenarnya seperti apa konsep persaudaraan yg ada dlm pikiranmu?
Apa sama seperti pertemanan biasa?
Bukan. Ini bukan soal dia yg dulu. Ini tentang org lain. Sosok lain yg baru aku kenal. Walau sekarang aku sendiri tidak yakin apakah aku sudah mengenalnya atau tidak.
Bukankah hubungan persaudaraan tidak akan pernah berakhir? Lalu kenapa aku merasa seseorang yg sudah aku anggap sbg abangku sendiri justru sekarang menjauh dariku? Apa yg sudah aku lakukan? Atau apa yg belum aku lakukan? Kesalahan apa? Kenapa harus menjauh? Kenapa tidak berkata yg sejujurnya kepadaku?
Aku selalu ingin siapapun jujur kepadaku, tentang apapun. Daripada berkata manis tapi bohong, lebih baik jujur walau menyakitkan. Tidak ada yg perlu ditutupi. Tidak juga harus berpura2 hanya utk menjaga perasaanku.
Kau tahu bagaimana rasanya bertanya2 tanpa ada jawaban? Tahu bagaimana rasanya dijauhi oleh org yg sudah kita percaya?
Aku tahu. Dan rasanya jelas tdk semanis vanila, tdk seindah langit, tdk seajaib hujan... Rasanya seperti... Seperti ini. Seperti tdk bisa menemukan jalan pulang saat kita masih kecil. Dan percayalah, rasanya tdk enak. Sungguh.
Kalau dg menulis disini bisa mengurangi rasa sesak di dada, ya, aku akui aku merindukannya. Merindukan dia. Dia yg selalu bercerita apa saja kepadaku, dia yg begitu perhatian, dia yg memintaku utk belajar mempercayainya, dia yg aku pikir bisa aku mengerti... Iya. Dia. Dia yg selama ini aku panggil abang.
Tapi sosok itu menghilang sekarang. Entah ini perasaanku atau apa, tapi sosok itu perlahan mulai berubah. Menjadi org lain yg sama sekali tidak aku kenal. Bukan maksudku supaya dia selalu menjadi yg aku inginkan. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu. Aku adiknya. Dan tdk ada adik yg tdk bisa menerima abangnya dlm keadaan apapun. Seorg adik pasti akan menerima abangnya, apa adanya.
Tapi ketika aku berusaha menyelami dirinya, aku tdk menemukan celah itu sdikitpun. Tdk ada sisi dlm dirinya yg masih menginginkan keberadaanku. Tdk ada bagian dlm dirinya yg dia sisakan untukku. Aku tahu dia selalu ingin membuat org lain senang, aku tahu dia selalu berusaha ada utk siapapun, selalu menolong org yg membutuhkannya, tapi dia tdk ada untukku. Waktunya sudah habis utk org2 lain. Aku tdk ada lagi dlm pikirannya. Aku bukan lagi adik yg dia butuhkan. Dan sekarang aku jadi ragu, apakah aku dulu dibutuhkan? Sepertinya tidak. Kenyataannya memang aku tdk pernah dibutuhkan. Aku yg salah mengira. Hanya aku yg membutuhkannya. Sementara dia tidak.
Dan kesadaran akan hal itu membuat aku jatuh lagi. Ya. Aku baru ingat selama ini hanya aku yg berkata bahwa aku akan selalu ada utknya. Dia tdk pernah mengatakan hal itu. Tidak. Sama sekali tdk pernah. Bahkan alasan kenapa dia mau menjadi abangku saja tdk pernah dia kemukakan. Dia ada sekedar utk menjaga perasaanku saja. Karena dia merasa tdk enak. Karena dia selalu ingin menyenangkan org lain. Hanya itu. Dan kenapa aku terlambat menyadarinya? Disaat aku sudah terbiasa dg kehadirannya dlm hari2ku, disaat aku mulai percaya padanya.
Abang, sebenarnya seperti apa konsep persaudaraan yg ada dlm pikiranmu?
Apa sama seperti pertemanan biasa?
Kamis, 01 Juli 2010
Tahu bagaimana rasanya kehilangan?
Percayalah, kamu tdk akan pernah benar2 tahu sampai kau sendiri yg mengalaminya.
Aku pernah. Ada rasa sakit, sedih, kecewa, bingung, takut, dan depresi. Semuanya jadi satu. Dan kehilangan, membuat aku menjadi sulit utk kembali percaya pada orang lain. Aku takut org yg sudah aku percaya, org yg sudah terbiasa menjadi bagian dalam hari2ku, suatu hari nanti berubah menjadi sosok lain yg tdk kukenal dan akhirnya memutuskan utk pergi dariku.
Dan aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
Percayalah, kamu tdk akan pernah benar2 tahu sampai kau sendiri yg mengalaminya.
Aku pernah. Ada rasa sakit, sedih, kecewa, bingung, takut, dan depresi. Semuanya jadi satu. Dan kehilangan, membuat aku menjadi sulit utk kembali percaya pada orang lain. Aku takut org yg sudah aku percaya, org yg sudah terbiasa menjadi bagian dalam hari2ku, suatu hari nanti berubah menjadi sosok lain yg tdk kukenal dan akhirnya memutuskan utk pergi dariku.
Dan aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi.
Langganan:
Komentar (Atom)