Rabu, 17 September 2014



Always be thankful to those who have abandoned the game, for your own sake or because you were not enough to them. They make you appreciate those who remained after the good, the bad, and the ugly. At first sight, you may think they were not supposed to get into your life, but after all they were just another lesson to be learned, another obstacle to take.
You know it is over and the best thing you can do is to thank them for the time they gave and let them go.
Those you should really care about are the ones who worry each time you forget to add a smiley face when you say you are fine. Who are aware of your fear of height or dark or that you hate beansprout… who knows you more than you know yourself even, remembers your phone number when you cannot even do, because numbers have never been your strength. But also, who understand your absences. Those where you fix the horizon, lost in your thoughts, prisoner of your past which you cannot escape.
Those who stayed, when others left. Who picked up the pieces after all the pain of the separations you faced. Who have let you live your life knowing how much your decisions will end by making you suffer, but who would be the first to support you in those difficult times.
Once, I said I would prefer to suffer being by his side than to lose him. He made me really happy. Every time we met, I felt like we had this strong connection. Something you cannot describe, you just feel it in your heart.
You can talk with someone for years, everyday, and still, it won’t mean as much as what you can have when you sit in front of someone, not saying a word, yet you feel like you have known the person forever… connections are made by heart, not tongue.
Each time we had a fight, we ended up by making up. I thought that maybe there was a reason to. But I was just wrong.
I just thought this time would be different.
I should’ve known I’d be wrong.

Minggu, 29 Desember 2013

Tuhan, sudah berapa lama semenjak terakhir kali aku menangis sperti ini? Sekeras dan selama ini? Sederas ini? Sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit yang begitu kuat seperti ini?
Tuhan, aku mengerti aku hanyalah masa lalu yang kembali. Sayangnya dia bukan lagi orang yang sama, Tuhan. Dia yang sekarang bukan lagi anak lelaki yang aku kenal, yang aku hapal luar kepala jalan hidupnya. Sekarang dia adalah seorang lelaki, yang menghabiskan kurang lebih empat tahun belakangan bersama orang lain. Dan selama itu pula aku tidak tau apa yang terjadi padanya, hidupnya... Dia sekarang orang yang penuh banyak kenangan. Kenangan yang aku harap bukan dia bagi bersama perempuan itu.
Ah, perempuan itu lagi. Mengapa aku begitu membencinya? Mengapa aku begitu tidak ingin menyukainya? Entahlah. Tapi rasanya semua kata-kataku dulu benar, bahwa mungkin, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memaafkannya. Tapi sekeras apapun aku membencinya tidak akan merubah kenyataan bahwa perempuan itu pernah begitu penting buat dia, pernah memiliki kenangan bersamanya, pernah mempunyai hal-hal yang tidak aku punya... dan sepertinya, aku cemburu.
Tuhan, terima kasih telah menurunkan hujan di saat seperti ini. Setidaknya, aku tidak perlu menyembunyikan air mataku.
Setidaknya, aku punya alasan kenapa aku basah kuyup.

Sabtu, 28 Desember 2013

Meninggalkan Janji

Sekarang udah tepat tengah malam. Semuanya udah pada tidur. Sunyi. Sepi. Tiba-tiba aku teringat abangku. Apa kabarnya dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia bahagia? Apa dua orang keponakanku yang tinggal disana terjamin hidupnya? Sehatkah mereka?
Hmm. Abangku dan keluarga barunya udah lama nggak pernah ngasi kabar lagi ke aku. Lalu aku ingat dengan anak-anaknya yang ada disini. Teringat semua foto mereka yang di-upload dengan bundanya di facebook. Mereka bahagia... ceria... Tapi aku selalu tau kalo mereka merindukan ayahnya. Dan aku yakin bundanya juga begitu. Dibalik semua ketegarannya, aku yakin dia pun sepi. Kenapa harus berakhir seperti itu?  Tidak bahagiakah mereka dulu? Apa sebegitu mudahnya melupakan janji-janji dan kenangan yang udah dibuat sama-sama? Aku bahkan nggak habis pikir kenapa abangku bisa melupakan anak-anaknya. Ketiga putrinya itu manis, cantik, lucu, dengan tingkah khas mereka yang nakal, cerewet, dan selalu ingin tahu, dengan bakat-bakat dan kepercayaan diri yang luar biasa untuk anak-anak seumuran mereka... Tidak menyesal kah dia mengabaikan mereka yang bahkan hingga sekarang masih berharap ayah mereka akan pulang?
Aku mungkin memang bukan orang yang bisa terlalu dekat dengan anak-anak. Tapi aku selalu ingin mendengar cerita dari mereka. Menerka-nerka perasaannya. Menghiburnya. Mereka memang belum mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti mereka akan mengerti. Mereka memang harus mengerti dengan sendirinya. Aku yakin mereka juga sedang berpikir tentang apa yang terjadi dengan ayah bundanya sekarang.
Well. Itukah yang namanya komitmen? Serapuh itu? Apa lantas karena ketidakcocokan lalu semudah itu mengucap pisah? Kadang lucu kalo ingat dua orang yang dulunya saling mencintai, melakukan apa saja untuk mempertahankan hbungan, saling mencoba memahami walaupun sulit, lalu ketika menikah malah berubah menjadi orang asing, saling menuding, memaki mungkin, menolak untuk berbicara, lalu memutuskan untuk berpisah. Kesibukan dan harta mengambil alih cinta yang dulu dikoar-koarkan. Kenangan pun menjadi tidak penting lagi.
Aku memang belum menikah. Orang-orang bilang segalanya menjadi lebih rumit ketika sepasang kekasih akhirnya menikah, membina rumah tangga dan membentuk keluarga. Tapi bukankah ijab qabul adalah janji? Pernyataan kesanggupan dari seorang lelaki yang secara tidak langsung "mengambil" seorang wanita dari ayahnya. Berjanji bahwa dia sanggup menggantikan ayahnya untuk menjaga, melindungi, dan menyayanginya dalam keadaan apapun. Seharusnya para lelaki paham kan tentang itu? Maksudku, ayah si perempuan pasti perasaannya campur aduk. Sedih dan berat melepas putrinya, amanah dari Tuhan yang dia sayangi dan cukupi sejak bayi, untuk dipercayakannya dengan seorang lelaki yang belum tentu mampu menyayanginya tanpa henti. Mungkin bahagia juga, karena akhirnya putri yang ia sayangi telah dewasa dan siap menempuh kehidupannya yang baru. Lega karena bila nanti ia pergi, ia tidak perlu mengkhawatirkan anak perempuannya lagi. Kalo dipikir-pikir, berarti ijab qabul itu proses "pindah-tangan" amanah Tuhan dari satu orang ke orang berikutnya kan? Berarti ijab qabul itu hitungannya berat kan? Bukan hanya kalimat yang diucapkan dalam satu napas, tapi sebuah janji dari seorang lelaki; janji ke ayah si perempuan dan juga janjinya ke Tuhan.
Lalu, apakah janji seberat itu bisa dengan mudah ia lepaskan hanya karena di kemudian hari ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga mereka? Apakah mereka sebegitu mudahnya meninggalkan kenangan?
Dan pertanyaan yang paling penting, dimanakah cinta bila saat itu tiba? Pergikah? Atau hanya sekedar bersembunyi, menanti untuk ditemukan lagi?

Akhir Tahun

Ini udah menjelang akhir tahun ya? Pantesan aja suasana hati makin gak karuan gini. Entah kenapa. Kok makin hari makin jadi dramanya. Ada aja yang salah...
Tiba-tiba aku takut kehilangan dia. Tiba-tiba aku takut aku bakalan nulis tentang semua kegalauan aku disini lagi. Aku tau gak seharusnya aku meragukan dia. Tapi entahlah, setiap kali aku ingat gimana dia dulu dengan perempuan itu rasanya.... ya seperti ini. This is not healthy. Itu semua masa lalu kan? Semua orang juga punya masa lalu. Tapi tetap aja kalo ingat perempuan itu aku nggak rela :(
Gimana kalo semuanya ngga selancar yang kami harapkan? Gimana kalo sampe kapanpun orangtuanya tetap ngga suka sama aku? Yang aku tau, mungkin aku bakalan pergi. Bukan karena aku ngga mencintai dia ataupun ngga memperjuangkan hubungan kami, aku cuma... Aku ngga mau dia memilih aku dan mengabaikan orangtuanya. Aku ngga mau dia jadi anak yang menentang ibunya. Karena kalo ada satu-satunya wanita yang paling pantas dia cintai di dunia ini itu ya ibunya. Perempuan hebat yang ingin aku hadiahi dengan jutaan ucapan terima kasih karena telah membawa seseorang yang sangat luar biasa ke dunia ini. Seseorang yang akan aku cintai sampai kapanpun.
Ah sudahlah.. Aku ngga mau mellow-mellow lagi. Capek :(
See you next time.




With love,


Ai

Kamis, 26 Desember 2013

2013

Wah. udah sekian lama gak nulis lagi disini. Haha pembukaan yang klise banget ya... tapi beneran, akhirnya bisa login lagi setelah setahun lupa dengan password *ups
Nah pas giliran bisa login, baru tau ternyata blogger makin lamaaaaa aja loadingnya. Ckckck.
Hmmmm apa yang mau ditulis ya? berhubung ini akhir tahun apa perlu kita bikin kaleidoskop perjalanan hidup setahunan ini? Trus ikutan kayak orang-orang yang bikin resolusi deh :)
Anyway, banyak yang terjadi selama 2013 ini. Kayaknya perlu dibikin list deh... 
1. Surprise ulang tahun
 Ini tahun pertama kalinya aku dapat surprise ulang tahun dari temen kuliah. Tahun-tahun sebelumnya aku dapat surprise beginian dari Jeany, Bella, Ziah, Apid, sama Akil. Pasti itu. Nah tahun ini ga ada satupun dari mereka yang muncul, malah datangnya Marfu, Rin, sama Monny :) tetap berkesan dan bikin terharu juga sih. Beruntung rasanya punya teman-teman yang perhatian kayak mereka :')
Oh iya, si Mr. Heartbreaker itu juga ngucapin selamat ke aku loh. Gak nyangka ya ternyata masih ingat :) 
2.  Kejambretan
For the first time in my life, aku dijambret. Waktu itu aku baru pulang ngajar, agak hujan, magrib, dan rasanya kayak mimpi. Setelah kejadian itu aku langsung berhenti ngajar dan gak pernah pulang pas magrib-magrib lagi. Trauma men ~
3. Launching BCLC
Setelah bertahun-tahun tanpa kejelasan, setelah beberapa kali penundaan, akhirnya BCLC diresmikan juga :) aku jadi EO waktu itu. Mengusung tema percampuran dua budaya, Inggris-Indonesia, aku membentuk tim choir sama dance yang alhamdulillah masih bertahan sampe sekarang walaupun kayaknya semua orang di BCLC udah lupa deh sama aku :') Oh iya, waktu launching itu aku ngasi speech loh... *bluffing :P
4. Nilai-nilai yang tiarap
Masih perlu penjelasan? Nope. Nilai kuliah aku jeblok semuanya. Dengan IP semester 6 yang gak nyampe 3 akhirnya IPK pun terjun bebas. Udah. Jangan tanya kenapa!
5. PPL & KKN
Nah ini nih peristiwa yang mengindikasikan kalo aku udah dewasa. Aku jadi guru PPL loh, di sebuah SMP swasta disini. Gak tanggung-tanggung, satu semester penuh aku ngajar disitu. Rasanya... campur aduk. Tapi overall, I love the students. They are unpredictable yet funny!
Trus aku juga KKN di kabupaten yang jaraknya lumayan lah dari rumah. If we're talking about experience, then yes I've got a lot!
6. Mr. Heartbreaker
Bertanya-tanya kenapa aku nulis itu lagi disini? Hmmm mungkin sebagai pengingat kalau aku gagal move on kali ya? Setelah untuk terakhir kalinya I said my goodbye to him here, siapa yang nyangka tahun ini aku nulis nama itu lagi?
Aku gak ingat gimana atau kapan tepatnya, yang jelas dia datang lagi. Dengan semua penjelasan yang seharusnya aku dengar bertahun-tahun yang lalu, dia kembali. Tapi kalo bilang aku gagal move on, kayaknya juga kurang tepat. I've moved on. Dan sekarang aku bukan orang yang sama lagi. Aku dan dia juga bukan melanjutkan apa yang sempat terputus di tengah jalan kok. Lebih tepatnya kami membangun kembali, mulai dari awal lagi. Jadi sebenarnya aku bukan gagal move on, tapi aku jatuh cinta lagi sama dia... *tsaaah
Dengan kembalinya dia, aku ingin memperkenalkannya dengan benar. Jadi si Mr. Heartbreaker yang berinisial FRZ yang sempat jadi hot topic di blog ini selama bertahun-tahun itu namanya Fariza Andriyawan. Nama yang bagus untuk ayah dari anak-anakku nanti kan?
Dia kembali pas Ramadhan, selalu seperti itu. Bedanya, kali ini aku berharap dia gak akan pergi lagi :)
Takdir emang gak bisa ditebak ya...
Ppfft. Aku udah nulis kembalinya Fariza Andriyawan ke list kaleidoskop 2013 aku. Jadi rasanya udah lengkap. Karena ketika dia kembali, segala sesuatu yang lain menjadi tidak penting.
See you next time with my resolution ya!


with love,
Ai

Sabtu, 06 Oktober 2012

Ending of Mine?

Sekian lama akhirnya sempat juga mampir kesini. Unfortunately, I'm back not for sharing something happy or fun or lively. Aku tulis ini buat sekedar cerita kegalauan aku beberapa hari belakangan.
Beberapa hari yg lalu aku mimpi aku nikah. Haha. Kayaknya dalam mimpi itu aku bahagia banget walaupun aku gak ingat siapa yg jadi suami aku. Yang jelas dalam mimpi itu aku bakalan nikah, atau hampir nikah. Pokoknya end up, aku lagi sibuk nyari baju buat dipake di pernikahan. I don't know how to describe it. It was just so real. Dan keesokan paginya aku bangun dengan senyum sumringah dan semangat nyalain laptop buat liat apa arti mimpi aku itu.
Pas aku googling, ternyata arti mimpi nikah itu sama dengan mati. Glek. Tapi aku gak terlalu terpengaruh sih ya, ambil positifnya aja yg penting aku senang dlm mimpi itu. Dan dengan mudahnya aku ngelupain arti mimpi yg ngejleb banget itu beberapa waktu kemudian.
Lalu gak tau kenapa tiba-tiba kelakuan kucing aku satu-satunya, si Amoy, berubah drastis. Dia yang biasanya jago makan dan minum susu seketika gak mau makan atau minum apapun. Kerjaannya melamun aja ato kalo nggak ngikutin aku kemana pun aku pergi. Intinya Amoy jadi bad mood.
Ternyata nggak cuma Amoy yg berubah. Si Ibnu juga ikutan moody. Mendadak jadi pendiam banget, dan tiap ditanya dia cuma bilang, "Kayaknya ada sesuatu yg salah, tapi nggak tau apa. Firasat nggak enak." Oh well, tadinya sampe sini aku belum mengaitkannya dengan mimpi aku ya, tapi kemudian adik aku yg baru kelas 1 SMP tiba-tiba aja cerita kalo dia mimpiin aku. Padahal adik aku itu kayaknya nggak pernah mimpiin aku, kalopun ada dia juga nggak bakalan cerita ke aku since she hate to compliment me even in the dream! Tapi kali ini beda, dengan girangnya dia nyambut aku pas aku pulang kuliah dan tertawa-tawa sambil nyeritain mimpinya.
Dalam mimpi dia, aku jadi artis. Internasional pula. Harusnya aku bangga dong ya? Terus dia juga cerita dalam mimpi itu aku ngadain pesta di rumah dan Nana After School datang. Oh my, I wanna be her sister desperately!
Oke, aku tau harusnya aku mikir positif aja, tapi entah kenapa same disini aku mulai mikir it's weird. Mimpi adik aku itu terlalu aneh. Secara dalam mimpi itu aku bahagia banget dan kata orang-orang dulu, biasanya mimpi itu kebalikan dari kenyataan. Dan kenapa harus aku yg jadi objek mimpinya?
The worst, tadi Ibnu bilang ke aku kalo dia barusan mimpi giginya tanggal. My, ini bukan lelucon, kan? Aku nggak tau mesti gimana tapi yg jelas aku nggak bisa nanggapinnya santai lagi. There is something. I know but I dunno what it is. I just hope that it's not that bad.
Aku tau ini konyol buat percaya dengan mimpi. Mungkin juga ini cuma kebetulan. Tapi mimpi gigi patah itu bukan hal yg sederhana kan? Semua orang tau kalo itu artinya berhubungan dengan kematian.
Aku udah berdoa ke Tuhan, menceritakan semuanya, mengadu semuanya ke Dia. Aku bilang pada-Nya aku masih ingin hidup lebih lama lagi disini. Aku masih punya banyak hal yg belum aku lakukan, mimpi yg belum aku realisasikan, harapan banyak orang yg diamanahkan ke aku yg belum sempat aku wujudkan... Aku tau alasan ini klise, semua orang juga pasti bilang gitu ke Tuhan, tapi aku yakin Tuhan aku dengar dan mengerti betapa aku butuh sedikit lagi saja waktu, bukan buat aku, tapi buat mereka, terutama buat ayahku :')
Tapi aku juga tau Tuhan selalu tau yang terbaik buat kita semua, termasuk aku. Jadi kalo memang kematian itu hal yg terbaik buat aku, aku cuma bisa memasrahkan diri aja menanti waktu itu tiba. Lagipula mungkin sebenarnya mati itu nggak sakit, kan? Mungkin cuma butuh beberapa menit aja, bahkan mungkin sebenarnya mati itu indah. Buktinya semua orang yang meninggal nggak pernah kembali lagi kesini karena disana mereka bahagia :')
Good side nya, aku jadi lebih menghargai setiap detik waktu yg aku punya. Selama ini aku lalai, sama mungkin kayak remaja-remaja di luar sana yg berpikir bahwa mereka masih muda, bahwa jalan hidup masih panjang. Kita semua begitu. Tapi akan lain hal nya kalau kita uda mendengar bahwa kita divonis mati, dalam waktu dekat ini.
Aku pun begitu. Selama ini aku jarang membisikkan doa setiap kali aku bangun tidur, tapi sejak pemikiran akan kematian ini aku jadi sadar dan menyapa Tuhan setiap kali aku membuka mata. Mengucapkan terima kasih pada-nya untuk satu hari lagi yang Dia berikan cuma-cuma untukku. Membisikkan syukur karena Dia masih mempercayaiku melakukan tugas aku hari itu. Aku jadi lebih menghargai setiap detik waktu yg aku punya bersama keluargaku. Tiap menit yang aku habiskan untuk mendengarkan cerita ibu, keluhannya, melihatnya menyisir rambutnya... Tiap menit yg aku habiskan untuk melihat ayahku, mengagumi ketegarannya, kegigihannya bekerja untuk keluarganya, untukku, di usianya yang hampir 60 tahun. Tiap menit yg aku habiskan untuk mendengarkan candaan konyol kakakku, melihat perutnya yg semakin membesar, dan betapa aku berharap bisa melihat bayinya kelak. Oh ya, kata dokter kemungkinan anaknya lahir itu bertepatan dengan ulang tahun aku loh :) Yah, kalo memang pada akhirnya aku nggak bisa melihat keponakanku nanti, paling nggak aku tau kalo Tuhan udah sebegitu murah hatinya ke keluargaku karena Dia bukan sekedar mengambilku, tapi juga menggantikan aku dengan kelahiran anak kakakku yg semoga saja bertepatan dengan hari kelahiran aku.
Aku juga jadi lebih menghargai hari-hari yg aku habiskan dengan adikku, membuatnya tertawa, mendengarkan cerita anehnya tentang sekolah, ngemil dan ngejus bareng dia... Aku nggak pernah bilang ke kakak dan adikku kalo aku menyayangi mereka, tapi aku yakin mereka tau kalau aku sayang sekali dengan mereka walaupun aku hampir jarang ada di rumah seharian.
Nanti kalo emang akhirnya aku pergi, aku ingin sekali datang ke pemakamanku. Aku ingin lihat siapa aja yang sedih, yang nangis, yg galau, yg peduli...tapi yg paling penting aku mau ngeliat siapa yang benar-benar merasa kehilangan...
Apa Amoy bakalan kayak Hachiko? Sebagian hatiku ingin sekali dia tetap nungguin aku pulang, tapi sebagian lainnya ingin dia tetap kuat dan segera melanjutkan hidupnya. Aku cuma berharap orang-orang tetap peduli dan mengurusnya nanti :')
Dan aku ingin Ibnu juga kuat. Aku yakin dia pasti bisa. Aku mau jika saat itu tiba, dia mau memaafkan aku karena aku nggak bisa jadi seperti yang dia inginkan.
Anyway, enough deh mellow-mellow nya, aku pengen kembali 'hidup'. Semoga aja ini cuma perasaanku doang. Moga aja ini cuma efek drama queen nya aku yang udah akut banget stadiumnya :)
Bubye.
With love,



Ai

Rabu, 11 Juli 2012

Look at my new template. So simple. Like the way I see this life. Hhahaha.
Anyway, sebenernya hidup tu gak sesederhana itu. Tapi kita bisa menyderhanakannya, dengan menyderhanakan pandangan kita tentang hidup.
Bingung? Sama. Mendadak aku juga bingung apa yg aku tulis.
Overall, aku senang karena bisa ngubah template blog aku ini. Akhirnya.....
Oh ya, sekarang uda mulai liburan loh. Masi gak ada rencana apa-apa untuk liburan aku kali ini. Aku juga kemungkinan sibuk dengan kegiatan baru aku, ntar deh ya aku cerita. Panjang soalnya.
Tapi aku punya misi buat liburan kali ini: memutihkan kulit.
Maklum kulit aku uda belang-belang gak jelas gini. Wish me luck ya :D
Last but not least,
Always smile, always love :)




With love,
Ai