Sekian lama akhirnya sempat juga mampir kesini. Unfortunately, I'm back not for sharing something happy or fun or lively. Aku tulis ini buat sekedar cerita kegalauan aku beberapa hari belakangan.
Beberapa hari yg lalu aku mimpi aku nikah. Haha. Kayaknya dalam mimpi itu aku bahagia banget walaupun aku gak ingat siapa yg jadi suami aku. Yang jelas dalam mimpi itu aku bakalan nikah, atau hampir nikah. Pokoknya end up, aku lagi sibuk nyari baju buat dipake di pernikahan. I don't know how to describe it. It was just so real. Dan keesokan paginya aku bangun dengan senyum sumringah dan semangat nyalain laptop buat liat apa arti mimpi aku itu.
Pas aku googling, ternyata arti mimpi nikah itu sama dengan mati. Glek. Tapi aku gak terlalu terpengaruh sih ya, ambil positifnya aja yg penting aku senang dlm mimpi itu. Dan dengan mudahnya aku ngelupain arti mimpi yg ngejleb banget itu beberapa waktu kemudian.
Lalu gak tau kenapa tiba-tiba kelakuan kucing aku satu-satunya, si Amoy, berubah drastis. Dia yang biasanya jago makan dan minum susu seketika gak mau makan atau minum apapun. Kerjaannya melamun aja ato kalo nggak ngikutin aku kemana pun aku pergi. Intinya Amoy jadi bad mood.
Ternyata nggak cuma Amoy yg berubah. Si Ibnu juga ikutan moody. Mendadak jadi pendiam banget, dan tiap ditanya dia cuma bilang, "Kayaknya ada sesuatu yg salah, tapi nggak tau apa. Firasat nggak enak." Oh well, tadinya sampe sini aku belum mengaitkannya dengan mimpi aku ya, tapi kemudian adik aku yg baru kelas 1 SMP tiba-tiba aja cerita kalo dia mimpiin aku. Padahal adik aku itu kayaknya nggak pernah mimpiin aku, kalopun ada dia juga nggak bakalan cerita ke aku since she hate to compliment me even in the dream! Tapi kali ini beda, dengan girangnya dia nyambut aku pas aku pulang kuliah dan tertawa-tawa sambil nyeritain mimpinya.
Dalam mimpi dia, aku jadi artis. Internasional pula. Harusnya aku bangga dong ya? Terus dia juga cerita dalam mimpi itu aku ngadain pesta di rumah dan Nana After School datang. Oh my, I wanna be her sister desperately!
Oke, aku tau harusnya aku mikir positif aja, tapi entah kenapa same disini aku mulai mikir it's weird. Mimpi adik aku itu terlalu aneh. Secara dalam mimpi itu aku bahagia banget dan kata orang-orang dulu, biasanya mimpi itu kebalikan dari kenyataan. Dan kenapa harus aku yg jadi objek mimpinya?
The worst, tadi Ibnu bilang ke aku kalo dia barusan mimpi giginya tanggal. My, ini bukan lelucon, kan? Aku nggak tau mesti gimana tapi yg jelas aku nggak bisa nanggapinnya santai lagi. There is something. I know but I dunno what it is. I just hope that it's not that bad.
Aku tau ini konyol buat percaya dengan mimpi. Mungkin juga ini cuma kebetulan. Tapi mimpi gigi patah itu bukan hal yg sederhana kan? Semua orang tau kalo itu artinya berhubungan dengan kematian.
Aku udah berdoa ke Tuhan, menceritakan semuanya, mengadu semuanya ke Dia. Aku bilang pada-Nya aku masih ingin hidup lebih lama lagi disini. Aku masih punya banyak hal yg belum aku lakukan, mimpi yg belum aku realisasikan, harapan banyak orang yg diamanahkan ke aku yg belum sempat aku wujudkan... Aku tau alasan ini klise, semua orang juga pasti bilang gitu ke Tuhan, tapi aku yakin Tuhan aku dengar dan mengerti betapa aku butuh sedikit lagi saja waktu, bukan buat aku, tapi buat mereka, terutama buat ayahku :')
Tapi aku juga tau Tuhan selalu tau yang terbaik buat kita semua, termasuk aku. Jadi kalo memang kematian itu hal yg terbaik buat aku, aku cuma bisa memasrahkan diri aja menanti waktu itu tiba. Lagipula mungkin sebenarnya mati itu nggak sakit, kan? Mungkin cuma butuh beberapa menit aja, bahkan mungkin sebenarnya mati itu indah. Buktinya semua orang yang meninggal nggak pernah kembali lagi kesini karena disana mereka bahagia :')
Good side nya, aku jadi lebih menghargai setiap detik waktu yg aku punya. Selama ini aku lalai, sama mungkin kayak remaja-remaja di luar sana yg berpikir bahwa mereka masih muda, bahwa jalan hidup masih panjang. Kita semua begitu. Tapi akan lain hal nya kalau kita uda mendengar bahwa kita divonis mati, dalam waktu dekat ini.
Aku pun begitu. Selama ini aku jarang membisikkan doa setiap kali aku bangun tidur, tapi sejak pemikiran akan kematian ini aku jadi sadar dan menyapa Tuhan setiap kali aku membuka mata. Mengucapkan terima kasih pada-nya untuk satu hari lagi yang Dia berikan cuma-cuma untukku. Membisikkan syukur karena Dia masih mempercayaiku melakukan tugas aku hari itu. Aku jadi lebih menghargai setiap detik waktu yg aku punya bersama keluargaku. Tiap menit yang aku habiskan untuk mendengarkan cerita ibu, keluhannya, melihatnya menyisir rambutnya... Tiap menit yg aku habiskan untuk melihat ayahku, mengagumi ketegarannya, kegigihannya bekerja untuk keluarganya, untukku, di usianya yang hampir 60 tahun. Tiap menit yg aku habiskan untuk mendengarkan candaan konyol kakakku, melihat perutnya yg semakin membesar, dan betapa aku berharap bisa melihat bayinya kelak. Oh ya, kata dokter kemungkinan anaknya lahir itu bertepatan dengan ulang tahun aku loh :) Yah, kalo memang pada akhirnya aku nggak bisa melihat keponakanku nanti, paling nggak aku tau kalo Tuhan udah sebegitu murah hatinya ke keluargaku karena Dia bukan sekedar mengambilku, tapi juga menggantikan aku dengan kelahiran anak kakakku yg semoga saja bertepatan dengan hari kelahiran aku.
Aku juga jadi lebih menghargai hari-hari yg aku habiskan dengan adikku, membuatnya tertawa, mendengarkan cerita anehnya tentang sekolah, ngemil dan ngejus bareng dia... Aku nggak pernah bilang ke kakak dan adikku kalo aku menyayangi mereka, tapi aku yakin mereka tau kalau aku sayang sekali dengan mereka walaupun aku hampir jarang ada di rumah seharian.
Nanti kalo emang akhirnya aku pergi, aku ingin sekali datang ke pemakamanku. Aku ingin lihat siapa aja yang sedih, yang nangis, yg galau, yg peduli...tapi yg paling penting aku mau ngeliat siapa yang benar-benar merasa kehilangan...
Apa Amoy bakalan kayak Hachiko? Sebagian hatiku ingin sekali dia tetap nungguin aku pulang, tapi sebagian lainnya ingin dia tetap kuat dan segera melanjutkan hidupnya. Aku cuma berharap orang-orang tetap peduli dan mengurusnya nanti :')
Dan aku ingin Ibnu juga kuat. Aku yakin dia pasti bisa. Aku mau jika saat itu tiba, dia mau memaafkan aku karena aku nggak bisa jadi seperti yang dia inginkan.
Anyway, enough deh mellow-mellow nya, aku pengen kembali 'hidup'. Semoga aja ini cuma perasaanku doang. Moga aja ini cuma efek drama queen nya aku yang udah akut banget stadiumnya :)
Bubye.
With love,
Ai