Sekarang udah tepat tengah malam. Semuanya udah pada tidur. Sunyi. Sepi. Tiba-tiba aku teringat abangku. Apa kabarnya dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa dia bahagia? Apa dua orang keponakanku yang tinggal disana terjamin hidupnya? Sehatkah mereka?
Hmm. Abangku dan keluarga barunya udah lama nggak pernah ngasi kabar lagi ke aku. Lalu aku ingat dengan anak-anaknya yang ada disini. Teringat semua foto mereka yang di-upload dengan bundanya di facebook. Mereka bahagia... ceria... Tapi aku selalu tau kalo mereka merindukan ayahnya. Dan aku yakin bundanya juga begitu. Dibalik semua ketegarannya, aku yakin dia pun sepi. Kenapa harus berakhir seperti itu? Tidak bahagiakah mereka dulu? Apa sebegitu mudahnya melupakan janji-janji dan kenangan yang udah dibuat sama-sama? Aku bahkan nggak habis pikir kenapa abangku bisa melupakan anak-anaknya. Ketiga putrinya itu manis, cantik, lucu, dengan tingkah khas mereka yang nakal, cerewet, dan selalu ingin tahu, dengan bakat-bakat dan kepercayaan diri yang luar biasa untuk anak-anak seumuran mereka... Tidak menyesal kah dia mengabaikan mereka yang bahkan hingga sekarang masih berharap ayah mereka akan pulang?
Aku mungkin memang bukan orang yang bisa terlalu dekat dengan anak-anak. Tapi aku selalu ingin mendengar cerita dari mereka. Menerka-nerka perasaannya. Menghiburnya. Mereka memang belum mengerti sekarang, tapi suatu hari nanti mereka akan mengerti. Mereka memang harus mengerti dengan sendirinya. Aku yakin mereka juga sedang berpikir tentang apa yang terjadi dengan ayah bundanya sekarang.
Well. Itukah yang namanya komitmen? Serapuh itu? Apa lantas karena ketidakcocokan lalu semudah itu mengucap pisah? Kadang lucu kalo ingat dua orang yang dulunya saling mencintai, melakukan apa saja untuk mempertahankan hbungan, saling mencoba memahami walaupun sulit, lalu ketika menikah malah berubah menjadi orang asing, saling menuding, memaki mungkin, menolak untuk berbicara, lalu memutuskan untuk berpisah. Kesibukan dan harta mengambil alih cinta yang dulu dikoar-koarkan. Kenangan pun menjadi tidak penting lagi.
Aku memang belum menikah. Orang-orang bilang segalanya menjadi lebih rumit ketika sepasang kekasih akhirnya menikah, membina rumah tangga dan membentuk keluarga. Tapi bukankah ijab qabul adalah janji? Pernyataan kesanggupan dari seorang lelaki yang secara tidak langsung "mengambil" seorang wanita dari ayahnya. Berjanji bahwa dia sanggup menggantikan ayahnya untuk menjaga, melindungi, dan menyayanginya dalam keadaan apapun. Seharusnya para lelaki paham kan tentang itu? Maksudku, ayah si perempuan pasti perasaannya campur aduk. Sedih dan berat melepas putrinya, amanah dari Tuhan yang dia sayangi dan cukupi sejak bayi, untuk dipercayakannya dengan seorang lelaki yang belum tentu mampu menyayanginya tanpa henti. Mungkin bahagia juga, karena akhirnya putri yang ia sayangi telah dewasa dan siap menempuh kehidupannya yang baru. Lega karena bila nanti ia pergi, ia tidak perlu mengkhawatirkan anak perempuannya lagi. Kalo dipikir-pikir, berarti ijab qabul itu proses "pindah-tangan" amanah Tuhan dari satu orang ke orang berikutnya kan? Berarti ijab qabul itu hitungannya berat kan? Bukan hanya kalimat yang diucapkan dalam satu napas, tapi sebuah janji dari seorang lelaki; janji ke ayah si perempuan dan juga janjinya ke Tuhan.
Lalu, apakah janji seberat itu bisa dengan mudah ia lepaskan hanya karena di kemudian hari ada sesuatu yang terjadi dalam rumah tangga mereka? Apakah mereka sebegitu mudahnya meninggalkan kenangan?
Dan pertanyaan yang paling penting, dimanakah cinta bila saat itu tiba? Pergikah? Atau hanya sekedar bersembunyi, menanti untuk ditemukan lagi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar