Begitu cepat malam beringsut. Angankuingin menjemput bayangmu ketika pagi turun dgn tetes embunnya. Ternyata aku merindukanmu setiap waktu. Selalu saja begitu. Sepertinya alu memang tak bisa menyingkirkan kesetiaanku. Mencintaimu sgn napas terengah dan kepala tengadah menghimpun doa.
Siapa lagi kalau bukan engkau, yg di mataku tak pernah basi. Seperti pagi yg selalu memberikan benderang untuk bumi. Setelah malam membabi buta menenggelamkannya dalam gelap.
Setelah semua makin jelas di mataku, aku juga belum beranhak pergi. Meski mungkin tidak sedahsyat awalnya, kaki belum juga surut mengharapmu. Apakh ini sebuah kebodohan? Barangkali iya. Tapi peduli apa? Bisa mencintaimu sudah cukup bagiku. Kalaupun penantianku harus terlunta2, dan akhirnya tak juga menemui titik muaranya, biarlah itu aku anggap sbg batu ujian yg harus aku lewati. Tal penting apakah aku lulus atau diam di tempat. Yg pasti, aku telah melakukan apa yg seharusnya, bukan apa yg aku reka2.
Mungkin aku ini memang bodoh. Menunggu cinta semu dgn damba seribu dan dibalut kesendirian. Setiap waktu yg berlalu adlah bait2 kesendirian dan penantian yg terus melilit.
Dan kalau sampai hari ini aku masih juga berharap kau akan datang dgn cintamu untukku, itu semua karena aku memang masih menunggumu. Ini di luar batas logika, atau malah di luar batas nalar biasa. Tapi biar saja, aku akan melakukannya sampai kaki dan hatiku benar2 tak mau lagi berpihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar