Aku melihat sekeliling malam ini. Ramai pejalan kaki dan lalu lalang kendaraan menjadi pemandangan yg sejenak menyekat pikiran. Sejenak, desau roda kendaraan menyapu jalanan. Menyadarkanku dari kesendirian. Sesaat aku terombang-ambing. Bertanya utk apa aku disini sendiri. Berada di antara org2 yg melenggang bergandengan dg menyungging senyum, menebar tawa kegembiraan.
Sejenak, aku dihinggapi rasa iri yg menusuk dalam. Menggerogoti logika warasku tanpa perlawanan ketika kudapati puluhan pasang mata berbinar duduk dibuai kemesraan. Dan aku masih sendiri terpaku tanpa teman, tanpa siapa2.
Betapa menyesakkan hidup sepi di tengah keramaian. Melintas detik demi detik dgn hanya berpelukan pada asa yg tersisa, menggantungkan angan hanya pada bayang2 semu, pudar lalu tercerai-berai bersama awan. Asa tentangmu yg tak kunjung padam kurengkuh meski dalam ketidakpastian. Bayang2 semumu yg tak lelah kugapai di ujung tebing keraguan beralaskan sembilu tajam.
Bilakh ada setitik masa untukku dan untukmu merangkai kembali barisan cerita rindu yg sempat tertunda. Mungkinkah datang setitik nyala api yg bisa mengobarkan waras jiwamu, membuka satu pintu untukku. Biar bisa kulukis lagi langit dgn damai sapamu. Biar bisa kuhias jalanan kota dgn renyah tawa dan senyummu. Biar rasa iri di dadaku sirna. Biar sendiriku tak hampa dalam keramaian.
Tapi mungkinkah cerita itu berulang? Sementara sampai detik ini, di sendiriku yg bersandar pada langit kelam dan gerimis yg satu2 datang, aku masih saja mematuk bayang2, menggurat kespian tanpa arah. Hanya angin, sebu, dan deru kendaraan yg kucium hambar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar