Lelaki itu tak mengerti. Sungguh2 tidak mengerti bahwa ia rindu. Lelaki itu tidak mengerti betapa ia mencintainya. Lelaki itu benar2 tidak mengerti. Entah apa yg harus dia lakukan agar lelaki itu mengerti? Bagaimana?
Apa dia hanya bisa berdiam diri melihat lelaki itu berjalan di depannya tanpa pernah menoleh lg? Apa dia bisa menghentikan langkahnya mengharapkan lelaki itu?
Dia merindukannya. Dia sadar itu. Rindu yg menyayat hatinya. Dia tau dia hanya mengusik luka hatinya yg tak pernah beku setiap kali mengingat kenangan2 itu. Dia sengaja menjatuhkan diri dlm duka itu lg. Dia sengaja tidak mau membuka hatinya utk siapapun. Dia tidak mau, tidak bisa, tidak siap. Dia terlalu mencintai lelaki itu. Dia bahkan sangat merindukannya. Merindukan tiap detik wktu yg dia lalui bersamanya. Merindukan kehadiran lelaki itu dlm hari2nya. Tp kini dia sendiri. Hampa. Tanpa sosok yg teramat dicintainya. Dia ingin lelaki itu mengerti. Bahwa dia sakit, bahwa dia menderita. Namun lelaki itu tak lg melihat ke arahnya. Lelaki itu tersenyum, namun tak lagi utk dirinya. Senyum dan tatapan mata yg penuh cinta itu utk seseorg lain. Seseorg lain yg menjadi alasan lelaki itu utk pergi meninggalkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar