Jumat, 16 Oktober 2009

Cinta itu ibarat anak panah yg terlepas. Anak panah yg terlanjur ditancapkan di hati. Tdk ada satu pun org yg bisa mencbut anak panah itu tanpa melukai hatinya. Pasti akan ada airmata dan darah bila suatu hari nanti anak panah itu dicabut. Dan kemudian luka itu akan terus mengucur dr lubang di hatinya yg menganga. 

Ya Tuhan.... Sampai kapan dia begini? Melewati waktunya yg selalu sama setiap hari. Membuang air matanya yg seolah tak pernah bisa kering. Ya Tuhan... Betapa dia merindukan lelaki itu. Betapa ia tdk sanggup bertahan lebih lama lg. Tidak Tuhan... Dia sakit. Dia rapuh. Tolonglah dia... Tolong dgrkan doa2nya...

Dia merindukannya. Bahkan di saat tengah malam seperti ini. Bahkan dia sama sekali tdk mengantuk. Dia justru tgh menangis. Mengenang kembali kebersamaan indah yg dulu selalu ia nanti tiap saat. Dia berharap dia bisa merasakan kehangatn itu lagi. Kehangatan yg menyelimuti hatinya saat ia mendengar lelaki itu mengucap cinta padanya. Kehangatan yg... Ah! Entahlah. Dia bahkan telah lupa kapan terakhir kali merasakn kehangatan itu. Rasa hangat yg bisa mengistirahatkan otaknya. Membuatnya melupakan semua masalah yg paling urgent sekalipun. Sebab apa? Karena bersamanya semua terasa jd lebih mudah. Memang masih terasa agak sulit, tp tdk lagi mustahil bagi dia utk melawan hari bila bersama lelaki itu...

Tapi sekarang? Semua telah berubah. Tidak ada lagi hari2 indah yg dia lewatkan bersama lelaki itu. Benar2 berubah. Drastis. Harus dgn keadaan seperti inikah dia melewati 365 hari dalam tahun ini?

Dan apakah selama 365 hari itu, dia harus terus menguras cadangan airmatanya? Untuk lelaki itu yg takkan tahu sudah berapa liter airmata yg dia habiskan... Bahkan lelaki itu tak tahu bahwa kini dia sudah kurus, Karena lelaki yg tak akan peduli padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar