Pahit. Pahit sekali kenyataan yg harus dia hadapi. Sendirian. Tanpa tahu harus bagaimana. Tanpa tahu harus kemana melangkah. Tanpa tahu apa yg akan ia temui dalam setiap harinya.
Memang tak ada yg perlu disesalkan. Karena dia juga tdk tahu apa yg harus ia sesali. yg dia tahu kini dia sendiri. Melawan hari2nya sendiri. Hari yg selalu sama. Monoton. Tanpa kejutan. Tanpa sesuatu yg bisa dikenang. Dan yg jelas, tanpa lelaki itu. Lelaki yg selalu dirindukannya. Lelaki yg namanya selalu ia sebut dalam doa2nya. Lelaki yg selalu dia percaya seumur hidupnya. Lelaki yg tak akan pernah bisa ia benci.
Ya. Lelaki itu. Lelaki yg wajahnya selalu hadir di setiap mimpinya.
Memang tak ada yg perlu disesalkan. Karena dia juga tdk tahu apa yg harus ia sesali. yg dia tahu kini dia sendiri. Melawan hari2nya sendiri. Hari yg selalu sama. Monoton. Tanpa kejutan. Tanpa sesuatu yg bisa dikenang. Dan yg jelas, tanpa lelaki itu. Lelaki yg selalu dirindukannya. Lelaki yg namanya selalu ia sebut dalam doa2nya. Lelaki yg selalu dia percaya seumur hidupnya. Lelaki yg tak akan pernah bisa ia benci.
Ya. Lelaki itu. Lelaki yg wajahnya selalu hadir di setiap mimpinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar