Kamis, 01 Oktober 2009

Dia jatuh. Terlalu dalam. Semuanya terasa hampa tanpa lelaki itu. Ah! Rasanya lelaki sama saja. Lelaki hanya bisa dan selalu melarikan diri tanpa mau bertanggungjawab. Tapi dia tetap tidak peduli. Hatinya menolak utk membenci lelaki yg teramat sangat dicintainya. Hatinya selalu dan akan selalu memaafkan. Sebab cinta itu sabar dan tahan menderita.

Mungkin org akan menganggapnya sbg org bodoh, namun dari dalam lubuk hatinya sebenarnya ia tak mau. Tapi apalah dayanya yg kini hanya bisa meratapi lelaki yg kini hanya bisa ditatap punggungnya. Dia berharap suatu saat nanti, punggung itu akan berbalik, berganti wajah yg ia nanti, berjalan ke arahnya dan mengusap airmatanya yg hampir habis untuknya.

Sudah seringkali dia coba utk bersabar. Bertahan demi cintanya. Dia bertahan dgn harapan2 kecil yg diberikan oleh lelaki itu. Harapan yg entah asli atau palsu. Dia tdk peduli. Dia terus bertahan meski berulang kali jatuh. Bagaimana kalau semua mimpi dan khayalnya tdk terwujud? Bagaimana bila lelaki itu tdk kembali padanya? Bagaimana? Sedang ia sangat merindukannya. Dia rindu akan suara yg dulu selalu menyapanya dgn penuh perhatian. Dia rindu akan sepasang tangan yg dulu selalu menggenggam dan merangkulnya dgn penuh kasih. Dia rindu akan sepasang mata yg dulu selalu menatapnya dgn penuh cinta. Dia merindukan itu semua.

Rindu, sepi, sunyi, dan penantian. Itulah yg dia lakukan setiap hari. Tak lupa titik airmata yg jatuh bergantian ikut menghiasi hari2nya bersama harapan2 kecil.  Andai saja lelaki itu tau bhwa dia selalu menangisi sisa2 serpihan kecil cinta yg dulu ia bangun, yg dulu ia banggakan, yg sampai kini selalu dijaga. Namun semua itu hancur tak bersisa krn sebuah kata yg ia kira tak 'kan pernah ia dengar. Sepertinya, tak perlu ia ceritakan pun org2 sudah tau dr sikapnya. Sikapnya yg kini merindukan semua tentang dirinya, bahkan motornya!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar