Hari ini sudah menginjak hitungan ke 256 hari yg dilewatinya sendirian. 256 hari. Mestinya sudah tdk sesakit ini lagi. 256 hari itu bukan waktu yg singkt. 256 hari itu lama. Ratusan. Tp dia tetap begini2 saja. Sama sekali tak ada perubahan yg berarti. Masih jauh dr kata membaik. Apalagi pulih. Mungkin kata yg lebih tepat utknya adalah terbiasa. Kebal. Dia hanya berusaha utk tdk mengingat luka itu.
Kata orang, cinta itu layak diperjuangkan. Cinta yg bagaimana? Apakah sama kasusnya dgn yg dia derita skrg? Dgn cara apa dia harus memperjuangkan cintanya? Dgn duduk diam meratapi ketragisan nasibnya? Ah! Bodoh... Bodoh sekali dia... Dia harus bisa melawan hatinya. Harus. Toh lelaki itu bukan makhluk paling sempurna yg ada di dunia. Pasti ada kekurangan lelaki itu yg selama ini luput dr matanya... Psti! Pasti ada. Pasti ada sesuatu dr lelaki itu yg bisa membuat dia membencinya...
Kata orang, cinta itu layak diperjuangkan. Cinta yg bagaimana? Apakah sama kasusnya dgn yg dia derita skrg? Dgn cara apa dia harus memperjuangkan cintanya? Dgn duduk diam meratapi ketragisan nasibnya? Ah! Bodoh... Bodoh sekali dia... Dia harus bisa melawan hatinya. Harus. Toh lelaki itu bukan makhluk paling sempurna yg ada di dunia. Pasti ada kekurangan lelaki itu yg selama ini luput dr matanya... Psti! Pasti ada. Pasti ada sesuatu dr lelaki itu yg bisa membuat dia membencinya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar